Menurut Nangoi, penyebab polusi udara di Ibu Kota juga bisa berasal dari sepeda motor, hingga pembangkit listrik.
"Seolah naik mobil berdosa. Yang namanya polusi itu macam-macam. Pembangkit tenaga listrik saja polusinya gila-gilaan. Kemudian motor ada polusi, mobil polisi, pabrik juga ada polusi," kata Nangoi di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Selasa (2/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun masalahnya, dijelaskan Nangoi pemerintah tidak bisa menyiapkan bahan bakar yang setara dengan spesifikasi mesin Euro 4.
"Jadi jika pemerintah bilang sudah harus Euro 4, mobil yang dihasilkan pabrikan dan dijual semuanya sudah Euro 4," ungkap Nangoi.
"Permasalahannya apa semua bahan bakar sudah Euro 4? kami masih belum tau. Wallahualam. Tanya ke Pak Jonan (Menteri ESDM), apa semua bahan bakar itu sudah Euro 4," ucapnya.
Lihat juga:Esemka Belum Ajukan Uji Tipe Euro 4 |
"Makanya ke pemerintah harus berikan bahan bakar lebih bersih. Tapi memang dampaknya ke harga, karena akan lebih mahal. Jadi Tanggapan Gaikindo kami dukung. Tapi ada dua hal yang terjadi, satu kendaraan yang secara teknologi Euro 4, dan bahan bakarnya harus sesuai," ucap Nangoi kemudian.
Di sisi lain, Nangoi menambahkan bahwa rasio kepemilikan kendaraan bermotor di Indonesia juga sebetulnya masih rendah, atau hanya 87 mobil per 1.000 orang. Sementara negara seperti Thailand bisa mencapai 240 mobil per 1.000 orang dan Malaysia 400 mobil per 1.000 orang. (ryh/mik)