Head of Marketing Team Sokonindo Automobile (DFSK) Major Qin mengatakan perusahaan punya rencana panjang untuk produk tersebut, salah satunya merakit lokal E3 di pabriknya di kawasan Cikande, Banten.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Qin memaparkan pabrik DFSK yang sudah menelan biaya investasi senilai US$150 juta itu sangat canggih, karena mengaplikasikan sebagian teknologi 4.0 atau serba otomatis dalam melakukan perakitan kendaraan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tentu disampaikan mobil ini produksi atau impor ya terlalu dini. Ke depan akan banyak faktor mempengaruhi, termasuk kebijakan, infrastruktur, dan respon pasar terhadap mobil listrik. Setelah itu baru bisa dirumuskan sebagai strategi produksi mau dari China atau produksi Indonesia," kata Qin.
Di China, E3 telah dipasarkan DFSK pasca debut di pameran otomotif Shanghai Auto Show 2019. Salah satu keunggulan mobil ini, mampu dikendarai sejauh 405 km dalam satu kali pengecasan atau baterai kondisi penuh.
Head of Product Division Sokonindo Automobile Sun Song menambahkan E3 tidak langsung dijual karena perusahaan ingin terlebih dahulu melakukan riset kebutuhan pasar di Indonesia tentang kendaraan listrik.
Song juga ingin agar saat E3 resmi mengaspal, mobil tersebut sudah sesuai dengan apa yang diinginkan konsumen di dalam negeri. (ryh/fea)