Dalam buku 'Sejarah Mobil dan Kisah Kehadiran Mobil di Negeri Ini' karya James Luhulima menjelaskan julukan 'mobil kaleng' muncul karena masyarakat kala itu sudah terbiasa dengan produk otomotif asal Amerika Serikat dan Eropa yang memiliki bodi berpelat tebal.
Menurut James dibandingkan mobil buatan Amerika dan Eropa, produk Jepang terlihat lebih ringkih lantaran berbodi lebih tipis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kehadiran mobil Jepang lantas mendapat cibiran masyarakat ketika melihatnya lalu lalang di jalan raya pada akhir 1960 hingga awal 1970. Dengan nada mengejek, masyarakat kala itu menyebut bodi mobil Jepang yang tipis terbuat dari blek (kaleng) kerupuk. Blek dikatakan terbuat dari seng sebagai bahan dasar.
"Mengingat jika bodi mobil Jepang itu diketuk, maka bunyinya nyaring, mirip suara blek yang diketuk," tulis James.
Alhasil, konsumen mulai tergoda untuk memiliki mobil Jepang.
Kualitas Mobil Jepang Saat Ini
Direktur Marketing Astra Daihatsu Motor (ADM) Amelia Tjandra yang paham dengan kualitas bodi mobil-mobil Daihatsu mencoba meluruskan pendapat konsumen soal bodi mobil buatan pabrikan otomotif Jepang.
Menurutnya, bodi mobil yang terbuat dari plat relatif tipis bukan berarti rentan. Melainkan hal tersebut menjadi bagian dari penyempurnaan pada industri otomotif.
"Dulu itu ponsel lama besar dan berat, spesifikasi sederhana. Sekarang tipis, tapi full spec karena teknologi. Begitu juga dengan industri mobil," ucap Amelia.
Argumen pabrikan penggunaan, penggunaan pelat tipis salah satunya guna menekan bobot kendaraan sehingga bisa mengejar efisiensi bahan bakar minyak. Di satu sisi, pabrikan meningkatkan kualitas mobil dengan memperbanyak fitur keselamatan penumpang sebagai kompensasinya.
Misalnya mobil penumpang jenis Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia memiliki ketebalan pelat bodi sekitar 0,5 mm sampai 0,7 mm. Untuk jenis mobil di atas menggunakan pelat lebih tebal.
"Teknologi membuat steel (baja) yang dibuat ringan tapi kuat, lebih kuat dari steel mobil lama yang berat. Efeknya ini ya mobil irit bahan bakar," ungkap Amelia. (ryh/mik)