Lapak bengkel tambal ban Rahim sebenarnya cukup besar. Kiosnya lebih mirip bengkel motor dengan beragam onderdil yang dijajakan, lebih dari tambal ban gubukan di pinggir jalan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang jadi buka lebih siang. Kalau dulu jam setengah tujuh pagi saya sudah siap, sekarang jam sembilan," kata Rahim sembari mengenakan masker hitam, kepada CNNIndonesia.com.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi yang serba 'abnormal' membuat Rahim sulit memenuhi kebutuhan keluarga. Penghasilan harian tak menentu. Yang jelas, jauh dari rata-rata pendapatan sebelum masa corona.
Beberapa kali dia mengeluhkan penghasilannya yang kini benar-benar tipis seperti ban motor yang kempis karena bocor. Di sisi lain, hanya usaha bengkel tambal ban ini yang bisa dia kerjakan untuk penghidupannya.
"Ya sekarang seperti ini saya lebih banyak menunggu. Ada yang datang saja masih bersyukur," ucap pria asli Sumatera Utara itu.
Tak Ada Bantuan Pemerintah
Sejauh ini Rahim mengupayakan bertahan hidup bersama istri dan kedua anaknya dari penghasilan seadanya. Tidak ada sepeser pun bantuan pemerintah setempat masuk ke kantong pribadinya untuk meringankan beban di masa sulit ini.
"Ya saya ini tidak ada dapat bantuan, tidak tahu juga kenapa," ucap dia.
Rahim mengaku heran, namun tidak ingin terlalu memikirkan kemana bantuan pemerintah itu mengalir.
Lihat juga:Hindari Cuci Mobil di Bawah Sinar Matahari |
Ketimbang memikirkan bantuan, Rahim lebih meminta pemerintah segera membuka menyudahi penerapan PSBB. Kata dia PSBB kini sudah tak ada artinya, sebab orang lebih banyak mengabaikannya.
"Ya kan banyak, bukannya di rumah ini malah keluyuran. Ada saja itu. Sudah lah buka saja [PSBB] biar beraktivitas seperti semula, tapi harus sadar juga masyarakat untuk pencegahan," kata dia. (ryh/bac)