Pembebasan PPnBM 100 persen diharapkan lanjut sampai Desember 2021. (Foto: CNN Indonesia/Febri Ardani)
Mengutip data Gaikindo pada 2019, wholesales atau distribusi dari pabrik ke dealer mencapai 1.031.907 unit. Sementara periode yang sama 2020 berkurang hampir setengahnya atau sebanyak 532.407 unit.
Penjualan retail (dari dealer ke konsumen) juga turun nyaris 50 persen. Pada 2019 penjualan retail dapat mencapai 1.045.717 unit, sedangkan 2020 berjumlah 578.762 unit.
Sementara 2021, penjualan berhasil mengalami perubahan ke arah lebih baik. Tren penjualan naik meskipun di awal tahun sempat sengal-sengal. Pasar mobil menunjukkan tren positif usai disetrum relaksasi Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) sebesar 100 persen dimulai Maret.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Periode Januari-Juli 2021 wholesales mencapai 460.105 unit atau naik 60,8 persen dari periode yang sama 2020 sebanyak 286.217 unit. Kemudian retail Januari-Juli 2021 naik 38,5 persen menjadi 451.872 unit, dari sebelumnya pada tujuh bulan 2020 hanya 326.379 unit.
Pasar mobil baru dalam negeri masih menunjukkan tren positif meski dipengaruhi pandemi covid-19. Penjualan mobil terdongkrak imbas PPnBM 100 persen mulai Maret hingga 31 Agustus 2021.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Per 1 September 2021, potongan PPnBM yang semula 100 persen berubah menjadi 25 persen. Kebijakan ini secara otomatis mendongkrak harga jual mobil baru hingga puluhan juta rupiah.
"Itu wilayahnya pemerintah dan sata belum tahu, tapi harapannya diperpanjang [relaksasi PPnBM 100 persen]," kata Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara.
Menurut Kukuh penjualan mobil tahun ini akan semakin terbantu bila pemerintah melanjutkan PPnBM 100 persen sampai Desember. Sebab sudah terlihat efeknya selama enam bulan lalu.
Relaksasi PPnBM 100 persen untuk mobil sampai 1.500 cc tidak hanya berdampak positif pada penjualan dan bisnis otomatis, melainkan juga membuka lapangan pekerjaan di tengah pandemi covid-19.
"Ya karena permintaan naik otomatis pekerja yang sebelumnya putus kontrak, ya dibuka lagi. Jadi banyak pabrikan langsung rekrut lagi," tutup Kukuh.
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) masih yakin pasar otomotif kendaraan roda empat atau lebih di Indonesia akan tembus 750 ribu unit. Selama Januari-Juli pasar otomotif sudah tembus 460.105 unit atau butuh sekitar 300 ribu unit di sisa waktu 4 bulan lagi.
Untuk menuntaskan misi butuh pameran untuk menggairahkan pasar otomotif dalam negeri yang saat ini sedang lesu akibat pandemi covid-19. Alasannya, seperti yang sudah-sudah, pameran otomotif membuat penjualan mobil di Tanah Air melesat pada bulan di mana acara tersebut digelar.
Sejak wabah covid-19 mulai masuk awal Maret 2020, tidak terhitung berapa kali pameran otomotif diundur, ditunda dan berujung batal. Hingga sekarang hanya Indonesia Internasional Motor Show (IIMS) yang berhasil lolos untuk diselenggarakan secara tatap muka pada April dengan prokes ketat. Sebanyak 4.600 unit mobil terjual di pameran IIMS 2021.
Tersisa satu pameran yaitu Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) yang ditunda ke November dari sebelumnya akan diadakan pada Agustus 2021. Penundaan ini imbas kasus penularan covid-19 yang tak kunjung menurun di Indonesia.
Ketua Umum Gaikindo Yohannes Nangoi berharap GIIAS bisa diselenggarakan untuk menjaga kondisi industri otomotif dalam negeri tetap "waras", meskipun menerima dengan lapang dada pameran harus digeser sampai akhir tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan penyesuaian kembali jadwal penyelenggaraan GIIAS 2021 ini kami harap akan menjadi keputusan terbaik bagi semua pihak," kata Nangoi.
Wajah industri otomotif RI di tengah pandemi covid-19
Dalam keadaan normal atau tanpa pandemi, penjualan mobil sangat menjanjikan sebab data menunjukkan tren positif. Terlebih sebelum pandemi covid-19 pameran rutin dihelat, baik IIMS, GIIAS, maupun agenda-agenda pameran berskala kecil seperti di pusat perbelanjaan.
Sejak awal pandemi covid-19, penjualan mobil tersungkur. Penjualan mobil anjlok akibat kondisi tidak menentu mulai dari PHK di mana-mana, kekhawatiran masyarakat untuk bertahan hidup, ruang gerak terbatas yang disebut mempengaruhi daya beli masyarakat.
Pameran otomotif yang menjadi nutrisi pasar mobil pun tidak terselenggara.
Asa PPnBM 25 Persen Mobil Baru
Pembebasan PPnBM 100 persen diharapkan lanjut sampai Desember 2021. (Foto: CNN Indonesia/Febri Ardani)
Mengutip data Gaikindo pada 2019, wholesales atau distribusi dari pabrik ke dealer mencapai 1.031.907 unit. Sementara periode yang sama 2020 berkurang hampir setengahnya atau sebanyak 532.407 unit.
Penjualan retail (dari dealer ke konsumen) juga turun nyaris 50 persen. Pada 2019 penjualan retail dapat mencapai 1.045.717 unit, sedangkan 2020 berjumlah 578.762 unit.
Sementara 2021, penjualan berhasil mengalami perubahan ke arah lebih baik. Tren penjualan naik meskipun di awal tahun sempat sengal-sengal. Pasar mobil menunjukkan tren positif usai disetrum relaksasi Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) sebesar 100 persen dimulai Maret.
Periode Januari-Juli 2021 wholesales mencapai 460.105 unit atau naik 60,8 persen dari periode yang sama 2020 sebanyak 286.217 unit. Kemudian retail Januari-Juli 2021 naik 38,5 persen menjadi 451.872 unit, dari sebelumnya pada tujuh bulan 2020 hanya 326.379 unit.
Pasar mobil baru dalam negeri masih menunjukkan tren positif meski dipengaruhi pandemi covid-19. Penjualan mobil terdongkrak imbas PPnBM 100 persen mulai Maret hingga 31 Agustus 2021.
Per 1 September 2021, potongan PPnBM yang semula 100 persen berubah menjadi 25 persen. Kebijakan ini secara otomatis mendongkrak harga jual mobil baru hingga puluhan juta rupiah.
"Itu wilayahnya pemerintah dan sata belum tahu, tapi harapannya diperpanjang [relaksasi PPnBM 100 persen]," kata Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara.
Menurut Kukuh penjualan mobil tahun ini akan semakin terbantu bila pemerintah melanjutkan PPnBM 100 persen sampai Desember. Sebab sudah terlihat efeknya selama enam bulan lalu.
Relaksasi PPnBM 100 persen untuk mobil sampai 1.500 cc tidak hanya berdampak positif pada penjualan dan bisnis otomatis, melainkan juga membuka lapangan pekerjaan di tengah pandemi covid-19.
"Ya karena permintaan naik otomatis pekerja yang sebelumnya putus kontrak, ya dibuka lagi. Jadi banyak pabrikan langsung rekrut lagi," tutup Kukuh.