Gaikindo Buka Suara Penjualan Mobil Baru Indonesia Kalah dari Malaysia

CNN Indonesia
Kamis, 08 Jan 2026 12:30 WIB
Gaikindo dan anggotanya mengurai masalah di dalam negeri yang membuat penjualan mobil baru 2025 kalah dari Malaysia.
Gaikindo dan anggotanya mengurai masalah di dalam negeri yang membuat penjualan mobil baru 2025 kalah dari Malaysia. (CNN Indonesia/ Adi Ibrahim)
Jakarta, CNN Indonesia --

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) buka suara terkait pergeseran yang terjadi pada industri otomotif di Asia Tenggara, di mana Malaysia pada tahun lalu melampaui Indonesia menjadi negara dengan penjualan mobil baru terbanyak di kawasan.

Kondisi tersebut memicu keresahan pelaku industri otomotif nasional karena dinilai mencerminkan persoalan struktural yang belum terselesaikan di dalam negeri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketua Umum Gaikindo Putu Juli Ardika mengatakan capaian penjualan mobil Malaysia sepanjang 2025 sudah berada di kisaran 700 ribu hingga 800 ribu unit.

Angka itu bahkan melampaui proyeksi penjualan mobil Indonesia yang telah direvisi akibat kondisi ekonomi dan melemahnya daya beli menjadi 780 ribu unit.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Malaysia paling tidak sudah mendekati 800 ribu, atau mungkin 700-800 ribu sekian gitu. Kalau kita kan 780 ribuan (prediksi sepanjang tahun 2025) nih untuk pronogsa ini. Jadi sudah melampaui kita," kata Putu melansir CNBC Indonesia, dikutip Kamis (8/1).

Data industri menunjukkan selama periode Januari hingga November 2025, penjualan mobil di Malaysia mencapai sekitar 720 ribu unit. Pada periode yang sama, penjualan mobil Indonesia baru menyentuh kisaran 710 ribu unit. Selisih tipis ini menjadi sinyal kuat bahwa dominasi pasar otomotif regional mulai bergeser.

Menurut Putu, salah satu faktor kunci yang mendorong laju penjualan mobil di Malaysia adalah kebijakan pemerintah yang agresif dalam mendukung industri otomotif domestik, khususnya mobil nasional.

Insentif dan stimulus di sana diberikan secara konsisten sehingga mampu menjaga permintaan tetap tinggi.

"Kalau kemarin yang kita pelajari ya salah satunya dia memberikan suatu insentif yang luar biasa bagi mobil nasionalnya. Dan dia juga memberikan ya stimulus-stimulus lah ke mobil mobil nasional," ujarnya.

Bagi Putu situasi ini tidak bisa dianggap sepele karena berpotensi memengaruhi persepsi investor global terhadap Indonesia. Jika daya saing industri otomotif nasional terus melemah, Indonesia berisiko kehilangan posisi strategisnya sebagai basis produksi kendaraan di ASEAN.

"Sudah kami petakan semua apa-apa yang memang perlu dilakukan untuk bisa mendorong ya mendorong, paling tidak jangan sampai kita jatuh di bawah, sekarang kan Malaysia paling tinggi di ASEAN. Sebab kalau sampai kita itu jatuh seperti itu, keyakinan investasinya kan akan berbeda sekali. Itu dari sisi Gaikindo," kata Putu.

Produsen khawatir

Kekhawatiran serupa disampaikan Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam. Bob bilang stagnasi pasar otomotif nasional sudah berlangsung cukup lama dan mencerminkan kegagalan dalam mencapai target pertumbuhan jangka panjang yang pernah diproyeksikan industri.

"Perkembangan pasar itu yang menjadi challenging bagi kita. Karena 10 tahun industri otomotif ini, dulu diprediksi tahun 2025 ini market kita sebenarnya 2 juta. Tapi aktualnya kan di bawah 1 juta," ujar Bob.

Bob mengurai, secara logika ekonomi Indonesia seharusnya memiliki pasar otomotif yang jauh lebih besar dibanding Malaysia. Dengan jumlah penduduk sekitar tujuh kali lipat, Indonesia mestinya mampu mencatatkan penjualan minimal dua kali lipat dari Malaysia.

Namun realitas di lapangan justru menunjukkan adanya ketimpangan besar.

"Kalau kita bandingkan dengan Malaysia, yang penduduknya 1 per 7 dari Indonesia, tapi income per kapita-nya 3 kali lipat dari kita, mestinya market kita ini 2 kali Malaysia. Jadi kalau Malaysia 750 atau 780 ribu, di Indonesia mestinya sudah di atas 1,5 juta. Jadi ada distorsi nih, 50 persen," katanya.

Distorsi tersebut, lanjut Bob, salah satunya bersumber dari struktur harga kendaraan di Indonesia yang dinilai terlalu mahal. Beban pajak yang tinggi membuat harga mobil kurang terjangkau bagi masyarakat, sehingga menekan daya beli dan permintaan.

"Mungkin diakibatkan oleh daya beli yang tidak terlalu kuat, dan pajak yang terlalu tinggi. Jadi di industri otomotif Indonesia ini kesannya kan harga kendaraan mahal banget gitu loh. Padahal di dalamnya pajaknya itu 40 persen. Nah bandingkan dengan negara lain yang pajaknya mungkin tidak setinggi kita. Kalau di Thailand itu di bawah 30 persen. Begitu juga di Malaysia," ujarnya.

Selain persoalan pajak, Bob juga menyoroti minimnya stimulus pemerintah untuk menjaga momentum pasar saat ekonomi melemah. Berbeda dengan negara tetangga yang rutin menggelontorkan insentif, kebijakan stimulus di Indonesia dinilai kurang konsisten.

"Kemudian yang kedua mereka rajin memberikan stimulus. Jadi even pajaknya ada tapi stimulusnya itu rajin. Kalau kita stimulusnya ini kurang sering. Nah ini yang kita harapkan ke depan menjadi pertimbangan dari pemerintah," kata Bob.

Bob menekankan bila tren ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin arus investasi otomotif akan beralih ke Malaysia.

(ryh/fea)


[Gambas:Video CNN]