Indonesia Setop Impor Solar 2026, Shell dkk Wajib Beli ke Pertamina

CNN Indonesia
Selasa, 13 Jan 2026 11:27 WIB
Shell, BP-AKR, Vivo dan ExxonMobil tak bisa lagi mengimpor Solar tahun ini, wajib beli dari Pertamina.
Shell, BP-AKR, Vivo dan ExxonMobil tak bisa lagi mengimpor Solar tahun ini, wajib beli dari Pertamina. (CNN Indonesia/Muhammad Falah)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia kembali membuat gebrakan baru dengan menyetop impor bahan bakar minyak (BBM) jenis Solar mulai awal tahun ini. Keputusan ini membuat setiap SPBU swasta yakni Shell, BP-AKR, Vivo dan ExxonMobil yang butuh menjual Solar jadi wajib beli dahulu ke Pertamina.

Kebijakan ini juga sejalan diresmikannya Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan milik Pertamina.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Begitu (proyek ini) diresmikan, maka insyaallah kita tahun ini kita tidak lagi melakukan impor Solar. Kita sudah mulai tahun ini, saya tidak lagi mengeluarkan izin impor Solar," ujar Bahlil di Kilang Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1).

Menurut dia kilang tersebut dapat memproduksi semua jenis Solar, baik CN48 maupun CN51. Maka, tak ada alasan lagi untuk melakukan impor. Bahlil sekaligus menekankan SPBU swasta yang selama ini mengandalkan impor harus membeli Solar dari Pertamina.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"(Swasta beli ke Pertamina?) Oh iya dong, semuanya," kata dia.

Pemerintah saat ini memberlakukan mandatori Biodiesel B40, yang merupakan campuran antara minyak sawit 40 persen dan Solar 50 persen. Pada tahun ini rencananya komposisi bakal ditingkatkan menjadi B50, yakni campuran minyak sawit dan Solar masing-masing 50 persen.

Bahlil optimistis ke depan Indonesia tak perlu lagi mengandalkan pemenuhan BBM dalam negeri melalui impor, sebab semua dapat dioptimalisasi RDMP Kilang Balikpapan.

Selain itu Bahlil mengurai kebutuhan bensin nasional mencapai sekitar 38,5 juta kiloliter per tahun. Kebutuhan tersebut terdiri atas bensin RON 90 sebesar 28,9 juta kl per tahun, RON 92 sebesar 8,7 juta kl per tahun, serta RON 95 dan RON 98 sekitar 650 ribu kl per tahun.

Melalui optimalisasi RDMP, Pertamina bisa meningkatkan produksi bensin dengan nilai oktan di atas RON 90 hingga 5,5 juta kl per tahun. Dengan tambahan kapasitas tersebut, impor bensin RON 92, RON 95, dan RON 98 dapat ditekan hingga sekitar 3,6 juta kl per tahun.

RDMP Balikpapan sendiri memiliki fasilitas utama, yakni Crude Distillation Unit (CDU) dan Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC). Dengan CDU yang menjadi jantung dari kilang Balikpapan, kapasitas kilang yang semula 260 ribu barel, kini dapat ditingkatkan menjadi 360 ribu barel minyak per hari.

Sementara unit RFCC menjadi pengolah minyak mentah yang mampu mengubah residu menjadi produk Petrokimia yang bernilai tinggi, seperti propylene dan ethylene.

"Ke depan, melalui penerapan E10 kita dapat menghemat impor hingga 3,9 juta kl per tahun, dan melalui pengembangan kilang selanjutnya kita dapat menyetop impor bensin RON 92, 95, dan 98 serta mengurangi impor bensin RON 90," ucap dia.

(ryh/fea)


[Gambas:Video CNN]