Pemilik Mobil Listrik Minta Pemerintah Bikin Aturan Home Charging

CNN Indonesia
Senin, 26 Jan 2026 08:00 WIB
Risiko kebakaran saat pengisian daya kendaraan listrik di rumah dinilai menjadi penghambat adopsi di Tanah Air.
Risiko kebakaran saat pengisian daya kendaraan listrik di rumah dinilai menjadi penghambat adopsi di Tanah Air. (Koleksi)
Jakarta, CNN Indonesia --

Komunitas Mobil Elektrik (Koleksi) meminta pemerintah membuat aturan jelas tentang keselamatan yang meliputi instalasi home charging, sertifikasi teknis, peralatan pemadam khusus baterai serta penanganan thermal runway.

Aturan standar nasional itu dirasa perlu guna mengurangi kekhawatiran soal risiko kebakaran baterai saat pengisian daya di rumah.

"Namun risiko ini dapat dicegah, dikelola, dan distandarisasi. Pemerintah perlu menetapkan aturan keselamatan yang jelas agar publik percaya dan berani beralih," kata Arwani Hidayat, Ketua Koleksi, di keterangan resminya, Sabtu (24/1).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Koleksi mengangkat isu ini dalam acara "Zero Emission and Zero Accident" yang digelar di Museum Listrik Energi Baru, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.

Kekhawatiran tentang kebakaran baterai saat mengisi daya di rumah disebut sebagai salah satu mitos yang menghambat adopsi kendaraan listrik di Indonesia.

Berdasarkan Survei Global EV Alliance (GEVA) 2025, sebanyak 77 persen dari 26.071 pengemudi kendaraan listrik di 30 negara menilai mitos-mitos, termasuk isu kebakaran, merupakan hambatan terbesar adopsi.

Arwani mengatakan perlu standar nasional terkait instalasi home charging. Tanpa itu dikatakan pemerintah daerah dan masyarakat menghadapi ketidakpastian, sementara mitos terus berkembang.

PLN, yang turut serta dalam acara, menilai menilai kolaborasi dengan komunitas menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan publik. Masukan dari komunitas pemilik kendaraan listrik disebut bisa membantu memastikan infrastruktur pengisian daya aman.

"PLN telah mengoperasikan lebih dari 4.672 SPKLU di seluruh Indonesia dan terus meningkatkan standar keselamatan," papar Ronny Afrianto, selaku Vice President VP Komersialisasi Produk Niaga, Divisi Pengembangan Produk Niaga (PPN) PLN.

Keterlibatan komunitas juga dirasa efektif melawan misinformasi dan dapat mempercepat adopsi kendaraan listrik.

"Transisi energi membutuhkan kepercayaan. Adapun Kepercayaan tumbuh saat keselamatan diatur dengan jelas dan risiko dikelola secara profesional," ucap Arwani.

(fea)


[Gambas:Video CNN]