Industri Otomotif Respons Koperasi Merah Putih Impor Pikap India
Berbagai pelaku industri otomotif Tanah Air menyuarakan nada kecewa soal pengadaan ratusan ribu kendaraan komersial impor India untuk program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Mereka mempertanyakan mengapa produsen dalam negeri tak dilibatkan.
Impor pikap ini ironis lantaran sektor otomotif dalam negeri sebenarnya mampu membuat jenis kendaraan komersial itu dan situasinya sekarang utilisasi pabrik rendah akibat lemahnya daya beli masyarakat dalam beberapa tahun terakhir.
Pengadaan impor KDKMP ini dilakukan oleh BUMN Agrinas Pangan Nusantara yang merupakan pelaksana utama pembangunannya. Agrinas akan mengimpor setidaknya 105 ribu kendaraan komersial dari dua produsen India, yaitu Mahindra & Mahindra dan Tata Motors.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mahindra bakal mengekspor 35 ribu unit pikap Scorpio sedangkan Tata akan mengirim 35 ribu pikap Yodha dan 35 ribu truk Ultra T.7. Importasi akan dilakukan Agrinas sepanjang 2026.
Kecewa
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang menyatakan jika pengadaan kendaraan pikap (4x2) dipenuhi oleh produk dalam negeri, maka akan memberikan dampak positif ekonomi (backward linkage) dan penyerapan tenaga kerja akan dinikmati Indonesia.
Lalu, subsektor yang berkaitan langsung dengan produksi pikap seperti industri ban, kaca, baterai basah (aki), logam, kulit, plastik, kabel, elektronik, dan lain sebagainya kembali menggeliat.
"Apabila seluruh kebutuhan kendaraan pick-up dipenuhi melalui impor, maka nilai tambah ekonomi dan penyerapan tenaga kerja akan dinikmati oleh industri di luar negeri," ujar Agus dalam keterangannya dikutip Jumat (20/2).
"Namun, apabila kebutuhan tersebut dapat dipenuhi oleh industri dalam negeri, maka manfaat ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan industri nasional juga akan dirasakan di dalam negeri," kata dia lagi.
Ia mengurai industri otomotif nasional telah memiliki kemampuan produksi kendaraan pikap dengan kapasitas signifikan sekitar 1 juta unit per tahun. Produsen yang terlibat di antaranya PT Astra Daihatsu Motor, PT Isuzu Astra Motor Indonesia, PT Mitsubishi Motor Krama Yudha Indonesia, PT Suzuki Indomobil Motor, PT SGMW Motor Indonesia, dan PT Sokonindo Automobile.
"Dengan kapasitas tersebut, industri kendaraan pick-up nasional dinilai mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik sekaligus memperkuat daya saing industri otomotif Indonesia di tingkat global," kata Agus.
Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Putu Juli Ardika menyatakan perusahaan kendaraan bermotor di Indonesia sebetulnya mampu memenuhi kebutuhan produksi pikap di dalam negeri.
"Sebenarnya anggota Gaikindo dan juga industri-industri pendukungnya, diantaranya industri komponen otomotif yang tergabung dalam GIAMM mempunyai kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan tersebut, namun memang diperlukan waktu yang memadai agar jumlah dan kriterianya dapat dipenuhi," ungkap Putu Juli.
Kata Putu bila diberikan kesempatan dan waktu, maka anggota Gaikindo dan GIAMM sebagai bagian dari ekosistim Industri Otomotif Nasional diharapkan bisa berpartisipasi untuk memenuhi kebutuhan kendaraan komersial tersebut.
Secara keseluruhan anggota-anggota tersebut mempunyai kapasitas produksi pikap lebih dari 400 ribu unit per tahun, tapi hingga kini belum dapat dipergunakan secara optimal.
"Sehingga dapat mengoptimalkan kapasitas produksi dalam negeri yang ada serta menghindari terjadinya pengurangan tenaga kerja yang saat ini berpotensi cukup tinggi karena penurunan permintaan pasar dalam negeri selama beberapa tahun," ungkap Putu.
Suara kecewa juga daatang dari Dirjen IKMA Reni Yanita yang menegaskan asosiasi binaan mereka, Perkumpulan Industri Kecil dan menengah Komponen Otomotif (PIKKO), adalah asosiasi Manufaktur IKM Komponen Otomotif yang telah berdiri sejak 13 tahun yang lalu dan beranggotakan 110 IKM.
Mereka memproduksi komponen otomotif berbahan dasar metal, plastic rubber dan nonwoven insulation, carpet serta mould&dies merupakan Tier 2&3.
Menurut Reni, PIKKO telah menjadi bagian ekosistem OEM dan Tier 1 untuk produksi kendaraan roda dua dan roda empat atau lebih. Mereka disebut siap memberi dukungan penuh terhadap program pemerintah untuk pengadaan sarana transportasi berupa kendaraan untuk distribusi pangan melalui KDKMP.
"Sehubungan dengan adanya informasi rencana langkah Importasi Kendaraan untuk Operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) oleh PT Agrinas Pangan Nusantara, PIKKO menyampaikan kekecewaannya atas rencana importasi kendaraan tersebut," kata Reni dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (20/2).
"Dengan utilisasi produksi saat ini yang masih di angka 60-70 persen, tentunya dampak impor kendaraan utuh tidak hanya dirasakan pabrikan, tetapi juga pada sekitar 6000 tenaga kerja di sepanjang rantai pasok industri komponen otomotif," katanya lagi.
Sementara Ketua PIKKO Rosalina Faried menjelaskan langkah ini akan menimbulkan disrupsi pada keberlangsungan ekosistem industri otomotif nasional.
"Kami memahami bahwa kebutuhan ini sangat mendesak tetapi pengadaannya untuk tidak 100% mengimpor kendaraan dari negara India mengingat kemampuan industri otomotif dan komponen otomotif dalam negeri sudah sangat mumpuni untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Kami khawatir hal tersebut membuat dampak ekonomi tidak bagus terhadap keberlangsungan ekosistem industri otomotif," ucap Rosalina.
Agus Gumiwang menambahkan pemerintah telah secara konsisten menjaga keberlanjutan industri otomotif nasional, termasuk dengan mengimbau pelaku industri otomotif untuk menjaga stabilitas tenaga kerja di tengah dinamika dan tantangan global.
Sehingga, kata dia pengadaan kendaraan melalui impor dikhawatirkan bakal mengganggu upaya tersebut.
"Kami terus mengajak pelaku industri otomotif agar menjaga keberlangsungan usaha sekaligus mempertahankan tenaga kerja, sehingga tidak terjadi pemutusan hubungan kerja di tengah tantangan industri yang ada," tutup Agus.
(ryh/fea)[Gambas:Video CNN]