Kenapa Jualan Pikap Listrik Bisa Gagal Total?
Produsen mobil di Amerika Serikat sempat berlomba-lomba menjual pikap listrik karena yakin cara ini ampuh menarik pasar yang skeptis beralih ke kendaraan listrik. Namun kenyataannya, bisnis pikap listrik bisa gagal total seperti yang terjadi pada F-150 Lightning buatan Ford.
CEO Ford Jim Farley mengatakan apabila dahulu perusahaan mengetahui kondisi yang akan melanda pikap listrik saat ini, mungkin ketika itu ia akan mengambil pendekatan yang sepenuhnya berbeda.
Lihat Juga : |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya pasti akan melakukannya dengan cara yang berbeda," ujar Farley diberitakan Inside EV.
"Maksud saya, lihat, kami tidak tahu apa yang tidak kami ketahui," tambahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada awal masa produksinya, F-150 Lightning memang berhasil menjadi truk listrik terlaris di pasaran dengan performa yang ditawarkannya. Namun, Ford gagal memprediksi penyerapan jumlah kendaraan yang produksinya.
Ford meningkatkan produksi dengan biaya besar ketika permintaan diperkirakan makin banyak. Namun, pandemi Covid-19 berdampak buruk bagi perusahaan hingga akhirnya pikap listrik ini harus berhenti diproduksi pada Desember 2025, hanya berselang 3 tahun sejak debut.
"Kami memiliki Mustang (Mach-E), kami memiliki E-Transit, kami memiliki Lightning, dan orang-orang menyukai produk-produk ini. Masalahnya adalah mereka tidak akan pernah membayar biaya yang kami masukkan ke dalam kendaraan," tutur Farley.
Biaya produksi yang digelontorkan Ford untuk pikap listrik terbilang mahal, terutama dari material yang digunakan. Ketika membedah mobil kompetitor lain, Farley menemukan kabel-kabel Ford memiliki bobot 31,75 kg lebih berat dari Mach-E dan 1,6 km lebih panjang dari Tesla.
"Kami tidak tahu apa yang terjadi dalam pikiran (insinyur Tesla). Tapi sekarang kami mengerti," tuturnya.
"Mereka tidak memiliki prasangka. Kami memiliki prasangka. Kami pergi ke orang rantai pasokan kami dan berkata, 'Beli kabel harness yang lain.' (Tesla) berkata, 'Mari kita rancang kendaraan untuk baterai terendah dan terkecil.' Pendekatan yang sama sekali berbeda," jelasnya.
Fenomena ini menunjukkan bisnis pikap listrik memiliki risiko tinggi karena biaya produksinya yang mahal. Sementara itu perusahaan dituntut cekatan menyusun strategi agar dapat menyesuaikan kapasitas produksi dengan permintaan konsumen lebih baik lagi.
Strategi Ford sekarang beralih drastis dari pendekatan 'value over volume' menjadi pemenuhan permintaan di segmen harga yang lebih rendah. Perusahaan tengah memutar otak untuk memotong biaya produksi guna menghindari kerugian serupa terjadi kembali.
(iqb/fea)[Gambas:Video CNN]