DFSK Tak Dilobi Agrinas Soal Pikap Kopdes, Siap Bantu Jika Diminta
Salah satu produsen pikap di dalam negeri, PT Sokonindo Automobile (DFSK), mengaku belum pernah dihubungi PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) untuk bermitra dalam proyek pengadaan kendaraan operasional koperasi desa/kelurahan Merah Putih. Namun, perusahaan menyatakan siap menerima pesanan bila diperlukan.
Director of Sales Center PT Sokonindo Automobile Cing Hok Rifin mengatakan tidak menerima permintaan pemesanan resmi dari PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) ke pabrikan.
"Langsung ke kita ke pabrikan, tidak ada ajakan," jelas Cing Hok.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cing Hok juga mengaku heran dengan persyaratan kendaraan 4x4 yang diajukan PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) dalam rencana pemesanan mobil untuk koperasi desa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Iya, makanya kita heran kenapa dikunci harus 4x4. Gitu. Karena memang kan 4x4 itu maintenance-nya lebih mahal," katanya.
Menurut Cing Hok, kendaraan berpenggerak 4x2 sudah cukup memadai digunakan di sejumlah medan di Indonesia. Terlebih lagi, kendaraan jenis ini lebih hemat bahan bakar dan biaya perawatannya juga terbilang lebih murah.
"Menurut kita beberapa daerah cukup 4x2. Karena untuk pemakaian bahan bakarnya enggak boros, kalau 4x4 kan boros. Terus service maintenance-nya juga 4x4 itu boros banget, dibanding 4x2," tuturnya.
CEO PT Sokonindo Automobile Alexander Barus mengatakan siap menerima pesanan asalkan memenuhi tiga tahap yang disyaratkan perusahaan, yaitu tahap assessment berbasis sains, penawaran harga, pertimbangan manfaat bagi industri otomotif dalam negeri.
"Begini. Kami siap, tetapi kami ingin semua ada tiga tahap mesti kita lalui, baru kami mau. Satu, we do need assessment. Apa yang dibutuhkan oleh koperasi desa ini? Betul enggak 4x2 atau 4x4? ... yang kedua kapan dibutuhkan, ... yang ketiga itu berapa yang dibutuhkan. Ini tiga harus kita pastikan bersama," ujar dia.
"Baru tahap berikutnya, mari kita bicara soal harga. Kami yakin kami bisa menyampaikan harga yang bersaing. Dengan kondisi bahwa kita memproduksi apa yang kita miliki. Nah terakhir, mari kita lihat bahwa ini adalah ... kesempatan kita untuk: satu, meningkatkan penguasaan teknologi lokal, yang kedua, menciptakan lapangan kerja di dalam negeri, yang ketiga, menghemat devisa kita, dan terakhir meningkatkan penjualan otomotif yang selama ini sudah turun. Jadi menurut saya ini program yang bagus... tapi tahapan yang tiga tadi kita lalui," jelas Alexander.
Terkait detail kesiapan perusahaan memenuhi pesanan, Cing Hok mengatakan PT Sokonindo Automobile membutuhkan waktu minimal tiga bulan. Waktu ini digunakan untuk berkoordinasi dengan pemasok baik dari dalam maupun luar negeri untuk memenuhi permintaan dalam jumlah besar.
"Seharusnya kita bisa setup supply chain kita tiga bulan sebelumnya. Jadi misalnya kita diinfo bulan ketiga itu mau berapa unit atau berapa ribu unit, kita bisa supply. Tapi enggak bisa dadakan bulan depan gitu karena kan kita harus koordinasi dengan supplier kita di China, juga supplier kita yang part lokal di Indonesia dan mereka butuh waktu kan untuk men-supply dalam jumlah gede," tutup Cing Hok.
(iqb/fea)[Gambas:Video CNN]

