Toyota Soal Hybrid Tak Dapat Insentif: Harapannya Didukung Seimbang

CNN Indonesia
Jumat, 08 Mei 2026 11:00 WIB
Ilustrasi. Toyota menilai mobil hybrid perlu dukungan pemerintah untuk transisi kendaraan rendah emisi. Mereka harap insentif seimbang untuk semua teknologi elektrifikasi. (Foto: Toyota Astra Motor)
Jakarta, CNN Indonesia --

Toyota buka suara terkait mobil hybrid yang tak masuk dalam program stimulus insentif pemerintah. Penguasa pasar asal Jepang tersebut menilai seharusnya seluruh teknologi elektrifikasi, termasuk hybrid produksi lokal, mendapat dukungan seimbang guna mempercepat pencapaian target Net Zero Emission di Indonesia.

Wakil Presiden Direktur Toyota-Astra Motor (TAM) Jap Ernando Demily mengatakan insentif untuk kendaraan listrik berbasis baterai atau KBLBB memang sudah diberikan selama beberapa tahun terakhir dan dampaknya sudah terasa signifikan.

"Kalau kami lihat saat ini dampaknya cukup terlihat signifikan apalagi berkat insentif berlapis dari berbagai komponen pajak," kata Ernando melalui pesan singkat, Jumat (8/5).

Salah satu dampak signifikannya adalah penjualan mobil listrik mejelit 141 persen menjadi 103.931 unit pada 2025. Itu merupakan rekor baru di dalam negeri dan sudah membuat porsi mobil listrik naik menjadi 12 persen.

Meski dampaknya sudah terasa bagi mobil listrik, pemerintah masih enggan memberi insentif setimpal untuk mobil berteknologi elektrifikasi lainnya, misal hybrid, walau sudah banyak produsen yang memproduksi lokal.

Selain menjual mobil listrik, Toyota di Indonesia juga menjual mobil hybrid. Bahkan Toyota adalah salah satu merek yang agresif mengembangkan teknologi hybrid di Indonesia.

Saat ini Toyota telah memiliki sejumlah mobil hybrid yang beberapa di antaranya berstatus produksi lokal seperti Kijang Innova Zenix Hybrid, Yaris Cross Hybrid, dan Veloz Hybrid. Perusahaan bahkan telah menanamkan investasi baru untuk pendalaman komponen lokal baterai mobil hybrid di Indonesia.

Jap menyampaikan pihaknya akan terus menerapkan strategi multi-pathway, yaitu pengembangan berbagai macam alternatif untuk NZE.

"Ke depannya, tentu kami akan konsisten mendukung segala upaya pemerintah dalam hal pengurangan konsumsi bahan bakar berbasis fosil serta pengurangan emisi gas buang, utamanya lewat diversifikasi strategi multi-pathway yang dinilai efektif untuk mencapai tujuan tersebut," ujarnya.

Ernando melanjutkan pihaknya berharap pemerintah dapat memberi ruang serupa bagi teknologi elektrifikasi lain agar proses transisi menuju mobilitas rendah emisi bisa berjalan lebih luas dan cepat.

"Harapannya, berbagai teknologi elektrifikasi dan teknologi ramah lingkungan lainnya terutama yang produksi lokal, juga dapat memperoleh ruang dan dukungan yang seimbang dari stakeholder. Sehingga transisi menuju mobilitas rendah emisi dapat berjalan lebih inklusif, serta mempercepat pencapaian target Net Zero Emission di Indonesia," kata Ernando.

(ryh/dmi)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK