Mobil Listrik Makin Populer, Kenapa Masih Banyak yang Tak Mau Beli?

CNN Indonesia
Senin, 11 Mei 2026 15:02 WIB
Menurut pakar otomotif dari ITB salah satu kekhawatiran yang masih menghantui konsumen adalah soal jarak tempuh. (CNNIndonesia/Febri Ardani)
Jakarta, CNN Indonesia --

Transisi menuju kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) di Indonesia dinilai masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama bagi konsumen yang baru pertama kali membeli mobil.

Praktisi otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu menilai mobil listrik memang menawarkan sejumlah keunggulan dibanding kendaraan bermesin pembakaran internal atau internal combustion engine (ICE).

Namun di sisi lain, masih ada kekhawatiran yang membuat masyarakat belum sepenuhnya yakin beralih ke EV.

"Bagi first-time car buyer, transisi ke EV jelas akan menghadirkan proposisi nilai yang kompleks ya. Dari sisi kenyamanan, EV unggul dalam akselerasi responsif, kabin minim getaran, biaya operasional yang hanya sepertiga dari ICE konvensional dan biaya perawatan yang lebih rendah dibanding ICE konvensional," kata dia melalui pesan singkat, Minggu (10/6).

Menurutnya keunggulan tersebut menjadi daya tarik utama kendaraan listrik, khususnya di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam beberapa waktu terakhir.

Meski begitu, ia mengatakan faktor psikologis masih menjadi hambatan besar dalam proses adopsi EV di Indonesia.

Range anxiety atau kekhawatiran kendaraan kehabisan daya di tengah perjalanan disebut masih menjadi pertimbangan utama konsumen. Terlebih, infrastruktur stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU) di sejumlah daerah dinilai belum merata.

Jumlah SPKLU aktif per Desember 2025 baru mencapai 4.778 unit di 3.093 lokasi.

Sementara itu, populasi kendaraan listrik di Indonesia hingga Maret 2026 mencapai 358.205 unit. Jumlah tersebut terdiri atas 236.451 unit sepeda motor listrik, 119.638 unit mobil penumpang listrik, 798 unit bus listrik, 537 kendaraan komersial listrik, serta kategori lainnya.

"Tetapi aspek keamanan psikologis masih menjadi tantangan seperti misalnya range anxiety, dan keterbatasan infrastruktur pengisian daya," ujarnya.

Selain itu, isu keselamatan baterai dan nilai jual kembali kendaraan listrik juga menjadi perhatian masyarakat sebelum memutuskan untuk membeli.

"Kekhawatiran soal keselamatan baterai pada kondisi ekstrem serta harga kendaraan bekasnya yang anjlok parah tampaknya belum sepenuhnya teratasi di konteks Indonesia," ungkapnya.

(ryh/fea)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK