Anomali Harga Mobil Listrik Baru di Jepang Cuma Rp60 Jutaan
Subsidi kendaraan listrik dari pemerintah pusat Jepang dan Pemerintah Metropolitan Tokyo bisa memangkas harga mobil listrik baru seperti Nissan Sakura menjadi cuma 560.000 yen atau sekitar Rp62,42 juta (kurs Rp111,46 per yen). Banderol ini membuat mobil listrik baru bahkan lebih murah dari versi bekasnya di pasaran.
Fenomena ini paling mencolok pada Nissan Sakura yang dijual resmi 2,44 juta yen (sekitar Rp271,97 juta).
Menurut penjelasan Nikkei Asia pada Selasa (7/7), Sakura berhak atas dua subsidi sekaligus, nasional sebesar 580.000 yen (sekitar Rp64,65 juta) dan Tokyo sejumlah 1,3 juta yen (sekitar Rp144,9 juta).
Bila dijumlahkan dua subsidi itu senilai sekitar Rp209,5 juta. Setelah dipakai buat memotong harga jual Sakura Rp271,97 juta, konsumen cuma perlu mengeluarkan dana sekitar Rp62,4 juta untuk membelinya.
Sebagai perbandingan, harga rata-rata Sakura bekas 1,51 juta yen atau sekitar Rp168,31 juta menurut situs informasi otomotif Car Sensor, jauh di atas harga unit baru bersubsidi di Tokyo.
Cara kerja subsidi
Insentif yang membuat anomali harga ini datang dari dua lapis, subsidi pemerintah pusat dan subsidi pemerintah daerah, yang bisa digabungkan sekaligus.
Lapis pertama adalah subsidi nasional. Pada Januari, pemerintah Jepang menaikkan plafon subsidi pembelian mobil listrik sebesar 400.000 yen (sekitar Rp44,59 juta) menjadi 1,3 juta yen (sekitar Rp144,9 juta).
Kendaraan Toyota dan Honda berhak atas subsidi penuh 1,3 juta yen itu, sementara subsidi untuk Tesla sedikit di bawahnya, yakni 1,27 juta yen (sekitar Rp141,56 juta).
Lapis kedua adalah subsidi daerah. Pemerintah Metropolitan Tokyo per awal bulan ini menaikkan plafon subsidinya sebesar 300.000 yen (sekitar Rp33,44 juta) menjadi 1,3 juta yen, sebagai respons atas lonjakan harga energi.
Mekanisme subsidi Tokyo ini bertingkat. Mobil listrik dari Nissan, Honda, dan Toyota langsung berhak atas subsidi 900.000 yen (sekitar Rp100,32 juta).
Sisanya, tambahan 400.000 yen, baru cair bila pembeli memenuhi syarat tertentu, seperti memasang alat pengisian daya dan pembangkit listrik tenaga surya.
Dengan skema itu, uang yang harus dikeluarkan konsumen buat membeli Sakura di Tokyo bergantung pada tingkat subsidi yang didapat.
Tanpa memenuhi syarat tambahan, pembeli otomatis mengantongi potongan dari subsidi nasional 580.000 yen plus subsidi dasar Tokyo 900.000 yen.
Artinya, dari banderol 2,44 juta yen, pembeli cukup membayar 960.000 yen (sekitar Rp107 juta). Angka ini saja sudah lebih terjangkau dari kebanyakan kei car, kategori mobil mini khas Jepang, yang bermesin bensin.
Bila pembeli juga memenuhi syarat tambahan, yakni memasang alat pengisian daya dan pembangkit listrik tenaga surya, ekstra 400.000 yen ikut cair sehingga total subsidi Tokyo mencapai plafon 1,3 juta yen.
Di titik inilah pengeluaran pembeli menyusut ke level terendah sekitar 560.000 yen, yang menjadi harga beli terendah Sakura.
Sejumlah distrik di Tokyo bahkan menawarkan subsidi tambahan sendiri, membuat insentif di ibu kota Jepang itu tergolong sangat royal. Besarannya bervariasi antardaerah, Prefektur Gunma menawarkan subsidi hingga 500.000 yen (sekitar Rp55,73 juta), sedangkan Fukui hanya 100.000 yen (sekitar Rp11,15 juta).
Penjualan melonjak
Berkat insentif ini penjualan ikut terkerek. Sepanjang kuartal April-Juni, penjualan mobil listrik penumpang di Jepang mencapai 32.378 unit menurut data industri yang dirilis Senin (6/7), hampir tiga kali lipat dari periode sama tahun lalu.
Porsinya mencapai 3,4 persen dari seluruh penjualan mobil baru, pertama kalinya menembus 3 persen dalam satu kuartal. Pada Juni saja, rasionya sudah di atas 4 persen.
Honda mencetak lonjakan paling dramatis, sebanyak 4.497 mobil listrik terjual pada kuartal kedua, dibanding hanya tiga unit pada periode sama tahun sebelumnya. Model ringkas Super-One menyumbang 60 persen dari volume itu.
Super-One diluncurkan Mei dengan harga ritel 3,39 juta yen (sekitar Rp377,86 juta), yang dengan subsidi turun menjadi 2,09 juta yen (sekitar Rp232,96 juta).
Permintaannya begitu tinggi sampai sejumlah diler sempat menghentikan sementara pemesanan model tertentu. Dengan subsidi Tokyo, Super-One bahkan bisa ditebus serendah 790.000 yen (sekitar Rp88,06 juta).
Penjualan Tesla juga naik hampir tiga kali lipat menjadi sekitar 7.000 unit pada kuartal kedua. Selain subsidi pemerintah, Tesla mengumumkan penggunaan stasiun Supercharger miliknya gratis selama tiga tahun.
Penjualan mobil listrik Toyota melonjak 38 kali lipat menjadi 7.240 unit. Toyota bZ4X yang menjadi mobil listrik terlaris di Jepang normalnya dijual 4,8 juta yen (sekitar Rp535,02 juta), tapi di Tokyo harganya bisa terpangkas lebih dari separuh menjadi 2,2 juta yen (sekitar Rp245,22 juta).
(fea)