Harga Rata-rata Mobil Listrik Global Kini Lebih Murah dari Hybrid
Harga rata-rata mobil listrik di pasar global sepanjang 2025 berada di bawah harga hybrid (HEV). Hal ini disebabkan harga baterai kian murah dan ekspansi pabrikan China ke pasar negara berkembang.
Penyedia data otomotif Mobility Global menghitung rata-rata harga mobil listrik pada 2025 berada di sekitar US$37 ribu atau setara Rp659,2 juta (kurs Rp17.817), turun 9 persen dibanding 2020.
Pada periode yang sama, rata-rata harga HEV justru naik 16 persen menjadi US$39 ribu atau sekitar Rp694,9 juta, dikutip Nikkei Asia, Sabtu (8/8).
Angka itu dihitung dari harga tanpa subsidi, dengan rata-rata berdasarkan volume penjualan.
Harga tinggi selama ini menghambat adopsi mobil listrik di banyak negara. Di China dan Norwegia, tempat harganya setara atau lebih murah dari mobil bensin, peralihan berlangsung jauh lebih cepat.
Baterai makin murah
Mobil listrik diuntungkan penurunan harga baterai lithium-ion yang menyumbang 30 sampai 40 persen biaya kendaraan, di tengah kelebihan kapasitas produksi di China yang menguasai sekitar 80 persen pasar.
BloombergNEF memperkirakan harga baterai untuk kendaraan penumpang turun 37 persen sepanjang 2020 hingga 2025.
Pabrikan juga makin banyak memakai baterai lithium iron phosphate (LFP) yang tidak memakai kobalt mahal. Densitas energinya sempat dinilai lebih rendah, tapi performanya terus membaik. Renault dan Volkswagen sudah menyatakan pada 2025 bakal memakai baterai LFP.
Persaingan domestik yang ketat mendorong pabrikan mobil listrik China berekspansi ke luar negeri. BYD disebut mengasah keunggulan biaya lewat rantai pasok terintegrasi vertikal, dari baterai hingga sasis.
China Association of Automobile Manufacturers mencatat ekspor mobil listrik China mencapai 1,64 juta unit pada 2025, dibanding kurang dari 100 ribu unit pada 2020. Thailand dan Meksiko jadi pasar ekspor utama, dengan merek China mencakup hampir 30 persen penjualan mobil baru di Thailand.
Per negara, mobil listrik juga lebih murah ketimbang HEV di Asia Tenggara dan Amerika Selatan. Thailand berupaya menarik produsen mobil listrik, dan BYD serta Great Wall Motor sudah membangun pabrik di sana.
"Pemain China telah menumbuhkan pangsa pasar mereka dengan fokus pada mobil listrik kompak bervolume penjualan tinggi, tetapi mereka telah memperluas lini produk dengan model besar dan kelas atas yang bermargin lebih besar," kata Yoshiaki Kawano, associate director di Mobility Global.
Pabrikan Jepang yang mengandalkan HEV mulai meninjau ulang strategi. Toyota menempuh pendekatan multi-pathway, menawarkan mobil listrik sekaligus HEV sesuai permintaan tiap pasar. Nissan meniru pesaing China dengan memproduksi mobil listrik di China untuk diekspor.
Nikkei Asia menyebut penjualan mobil listrik melonjak dalam beberapa bulan terakhir seiring perang di Timur Tengah yang mengerek harga bensin. International Energy Agency memperkirakan mobil listrik dan PHEV mencakup sekitar 30 persen penjualan global pada 2026.
(fea)