Perang Iran Picu Lonjakan Ekspor Truk Listrik China ke Asia Tenggara
Konflik di Timur Tengah yang berdampak pada melambungnya harga bahan bakar minyak (BBM) memicu percepatan perubahan kendaraan komersial ke tenaga listrik di Asia Tenggara.
Situasi ini dimanfaatkan secara maksimal oleh para produsen otomotif China untuk meningkatkan ekspor truk listrik ke kawasan tersebut.
Ketergantungan kawasan Asia Tenggara terhadap pasokan minyak Timur Tengah membuat penutupan Selat Hormuz berdampak langsung pada biaya operasional sektor logistik.
Lihat Juga : |
Data GlobalPetrolPrices.com, mencatat lonjakan harga diesel yang signifikan di beberapa negara, seperti Filipina yang melambung hingga 57 persen.
Kondisi tersebut mendorong sejumlah pengusaha angkutan barang di Asia Tenggara untuk segera beralih dari armada berbahan bakar fosil ke truk listrik untuk menghemat pengeluaran operasional.
Dalam empat bulan sejak meledaknya konflik pada akhir Februari, ekspor truk listrik berat asal China ke Asia Tenggara melonjak hampir tiga kali lipat.
Salah satu pabrikan kendaraan berat China, Sany, merespons dinamika ini dengan mengalihkan fokus pasar mereka dari Eropa ke Asia Tenggara.
Selain memperkuat terobosan jaringan, Sany juga memulai mengembangkan model-model truk listrik yang lebih terjangkau untuk memenuhi kebutuhan pasar berkembang di kawasan ini. Pada Juni lalu, Sany bahkan mencatatkan rekor pengiriman tunggal terbesar sebanyak 880 unit truk berat.
Vice President International Marketing Sany, Zhaoting Yue mengungkapkan bahwa tingginya harga BBM mengubah kalkulasi bisnis para pengusaha di Asia Tenggara secara drastis.
"Sebelum harga minyak naik, pembeli di negara-negara ini mungkin membutuhkan 28 bulan untuk mengembalikan investasi mereka dalam truk listrik berat," kata Yue.
Untuk mengatasi hambatan berupa keterbatasan infrastruktur pengisian daya di Asia Tenggara, pabrikan China juga mulai menyediakan solusi ekosistem secara lengkap, Sany tidak hanya menjual unit kendaraan, tetapi juga menawarkan sistem pembangkit dan penyimpanan daya (power storage) serta charging system bagi para konsumen.
Selain itu, masifnya terobosan kendaraan listrik asal China di jalanan Asia Tenggara turut mempercepat perluasan jaringan pengisian daya listrik. Hal ini memberi dorongan tambahan bagi adopsi truk listrik secara lebih luas mengutip situs Reuters, Jumat (14/8).
(hjn/mik)