Gojek dan Grab Diajak Garap Motor Listrik Nasional
BPI Danantara Indonesia menggandeng perusahaan aplikasi ojek online, seperti Gojek dan Grab, dalam proyek Motor Listrik Nasional (Molinas). Managing Director Industrialization Danantara Indonesia Ardy Muawin menyampaikan bahwa pemerintah berfokus membangun ekosistem secara menyeluruh, bukan sekadar memasarkan unit motor listrik.
Pihak Danantara merangkul Gojek, Grab, serta perusahaan ekspedisi seperti Pos Indonesia dan J&T guna menganalisis potensi permintaan pasar.
Berdasarkan pembahasan tersebut, Ardy mengetahui bahwa pengemudi yang beralih ke motor listrik mampu menekan biaya operasional harian sebesar Rp10 ribu hingga Rp20 ribu dibanding kendaraan berbahan bakar bensin.
Ardy mengkalkulasikan, penghematan harian sebesar Rp20 ribu selama 25 hari kerja dapat memberikan akumulasi efisiensi hingga Rp500 ribu setiap bulannya.
"That's a lot of money buat teman-teman itu," kata Ardy dalam acara diskusi bertajuk Navigating The Challenges of The Motor Vehicle Industry yang diselenggarakan di Jakarta Pusat, Kamis (20/8).
Ardy turut menelusuri penyebab masih rendahnya tingkat adopsi motor listrik di kalangan pengemudi Gojek.
Rupanya, masalah teknis di masa lalu, seperti performa mesin kurang tangguh di tanjakan serta daya tahan baterai yang minim, pernah menjadi hambatan utama. Para produsen motor listrik dikatakan sudah bertahap menyelesaikan berbagai persoalan teknis tersebut.
Aspek krusial lainnya yang dibahas adalah skema pembiayaan. Menurut kendala yang disampaikan pihak Grab, mayoritas pengemudi ojek online mengalami kendala akses pinjaman kredit akibat terhalang verifikasi BI Checking atau SLIK OJK.
Ardy menilai pengemudi ojek online dengan performa bintang lima dan riwayat kerja harian yang konsisten sebenarnya memiliki risiko kredit yang tergolong amat rendah.
Tingkat risiko ini dapat ditekan lebih lanjut melalui mekanisme penonaktifan kendaraan secara otomatis bila cicilan menunggak, disertai penawaran opsi pembayaran angsuran berbasis harian.
"Credit risk-nya bisa kita turunkan, sehingga harapannya cost of money bisa rendah, sehingga kita akan men-stimulate demand dari sisi teman-teman konsumen," ujar Ardy.
Selain itu, Ardy menyoroti kesenjangan suku bunga yang mencolok, di mana bunga kredit sepeda motor dapat mencapai 30 hingga 40 persen, sedangkan bunga kredit mobil hanya berada di kisaran 12 persen.
Beban bunga yang tinggi ini sering kali makin berat akibat perilaku pihak diler yang berfokus mengejar target penjualan kredit demi memperoleh bonus.
Guna mengatasi skema yang memberatkan konsumen tersebut, Danantara mengajak Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) untuk merancang ulang struktur pembiayaan demi permintaan daya beli masyarakat terhadap motor listrik dapat terbentuk.
(hjn/fea)