Produsen China Diminta Setop Perang Harga Mobil Listrik Ekspor

CNN Indonesia
Rabu, 02 Sep 2026 20:29 WIB
Impor mobil listrik sebanyak 600 Aion Y Plus sudah tiba di Indonesia.
Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian China merilis panduan bagi produsen otomotif agar menghentikan perang harga mobil listrik ekspor. (Aion Indonesia)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Perdagangan China bersama Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi (MIIT) serta regulator pasar negara menerbitkan panduan baru untuk produsen mobil listrik domestik pada 1 September. Pemerintah menginstruksikan para produsen menghentikan persaingan tidak sehat di pasar global demi menjaga pertumbuhan industri.

Dokumen yang memuat 20 poin aturan tersebut bertujuan mencegah praktik pemotongan harga ekstrem yang selama ini menekan margin keuntungan di dalam negeri. Pemerintah mengkhawatirkan dampak buruk skema persaingan tersebut meluas ke pasar ekspor yang saat ini menjadi penopang utama pertumbuhan sektor otomotif China.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melalui regulasi baru ini, produsen diwajibkan menetapkan harga berdasarkan perhitungan biaya produksi dan kondisi pasar, bukan sekadar memangkas harga untuk merebut pangsa pasar secara tidak adil.

Perusahaan juga dilarang melakukan perubahan harga secara mendadak atau terlampau tajam yang dapat merugikan konsumen serta merusak citra merek. Selain itu, pabrikan diminta menghormati wewenang dealer lokal dalam menentukan harga jual.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Aturan tersebut turut mewajibkan perusahaan menyampaikan informasi pemasaran secara jujur, memperkuat kepatuhan terhadap hukum antimonopoli dan antikorupsi, serta meningkatkan manajemen keselamatan di fasilitas produksi luar negeri. Meski demikian, otoritas terkait belum merincikan bentuk sanksi maupun mekanisme penegakan hukum bagi pihak yang melanggar.

Langkah tegas ini diambil setelah volume ekspor kendaraan China melonjak hingga 8,32 juta unit ke lebih dari 200 negara pada 2025. Skala perluasan yang masif tersebut sempat memicu penyelidikan di beberapa negara, seperti kasus pemeriksaan diler BYD di Thailand pada 2024 akibat keluhan konsumen terkait pemotongan harga secara agresif.

Kondisi pasar domestik China sendiri saat ini tengah mengalami penurunan drastis akibat perang harga yang berkepanjangan.

Distribusi kendaraan listrik pada paruh pertama 2026 merosot 13 persen secara tahunan karena konsumen cenderung menunda pembelian untuk menunggu diskon yang lebih besar.

Lembaga konsultan AlixPartners memproyeksi hanya tujuh dari sekitar 30 merek kendaraan listrik di China yang mampu meraih keuntungan pada 2030 mengutip Automotive World, Rabu (2/9).

(hjn/fea)
placeholder