Transisi Energi Indonesia Tak Perlu Berkiblat ke Satu Negara
Guru Besar Universitas Pertamina Iman Kartolaksono Reksowardojo menyebut Indonesia perlu dorong pendekatan multipathway dalam upaya transisi energi.
"China, Amerika, Jepang, Eropa itu kan di subtropis mereka tidak punya kekayaan alam untuk bahan bakar nabati cair ya sehebat Indonesia. Kita sudah buktikan bahwa nomor satu di dunia, jadi kita harus multi-pathway," ujar Iman dalam acara EVolution Forum yang diselenggarakan CNNIndonesia, Rabu (30/9).
Lihat Juga : |
Iman awalnya menyebut kondisi Indonesia yang unik dengan berbagai macam daerah dan kondisi infrastrukturnya. Indonesia pun disebut masih didominasi penggunaan Internal Combustion Engine (ICE) dan diterpa tekanan untuk elektrifikasi dari dunia internasional.
"Tapi kita harus cukup bijak untuk menangani itu. Kita tidak segera harus ikut mereka karena sebetulnya kita punya potensi lain yang sudah jalan dan terbukti menjadi contoh di dunia yaitu mungkin pernah atau sekarang banyak didengungkan oleh pemerintah, B50," jelasnya.
Ia sebut Indonesia perlu berbangga karena menjadi pelopor dalam industri, penelitian, dan aplikasi B50. Maka dari itu, ia berpandangan bahwa Indonesia tak perlu seratus persen menggunakan satu metode saja, melainkan menerapkan multipathway.
"Jadi ya kita harus bijak, jangan juga dibenturkan antara harus EV, harus biofuel, itu sama-sama harus jalan karena masing-masing punya keuntungan," tegas Iman.
Iman juga mendorong adanya dukungan pengembangan energi untuk perusahaan-perusahaan koperasi, tak hanya untuk perusahaan besar.
Namun, dalam pengembangannya, Iman mengaku adanya tantangan terlebih dalam aspek sosial, politik, dan ekonomi. Dengan adanya investasi dari swasta, pengembangan energi dapat lebih terdorong. Sehingga, tak hanya bergantung pada dukungan pemerintah yang anggarannya terbatas.
Lihat Juga : |
"Yang susah tadi sosial, politik, ekonomi gitu, ya. Jadi, dan pengalaman saya 20 tahun lebih itu supaya bisa jalan itu mandatory-nya ya kebijakan, tapi didorong dengan kuat oleh swasta gitu ya dengan mereka berani invest gitu ya karena mereka tahu bahwa akan untung. Nah, itu jalan sendiri biodiesel sampe B50 tuh karena swastanya sudah jalan, berani," jelasnya.
Komitmen pengembangan energi pun harus bersifat jangka panjang dan konsisten, sebut Iman.
"Akhirnya kita bisa nomor satu di dunia untuk biodiesel. Jadi kebetulan harus disertai dengan komitmen juga yang terus jangka panjang dan nanti si swasta nya tuh bisa berani," katanya.
(mou/fea)