Ia beranggapan, rencana kubu Aburizal Bakrie (Ical) tersebutlah yang membuat kubu Agung Laksono dengan cepat menggelar munas tandingan akhir pekan ini. Padahal menurutnya, Agung sebelumnya getol mencegah pelaksanaan munas pada November dan berencana menggelar munas Januari 2015 mendatang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ade menganggap peserta munas kubu Agung tak memiliki legal standing yang sah. Ini berbeda dengan peserta munas di Bali, yang menurutnya, hadir membawa surat mandat bertandatangan ketua dan sekretaris DPD yang sah.
Dengan tidak turut campur, Ade berujar, pemerintah berarti memiliki niat baik untuk tidak mengembalikan kultur politik masa lalu yang antidemokrasi. "UU Ormas dan UU Parpol menjamin pemerintah tidak akan campur tangan urusan partai," katanya.
Sementara itu penyelenggaraan Munas Golkar versi Agung yang mengambil tempat di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta, siang ini telah mencapai agenda ketiga.
Pada rapat paripurna III para peserta munas dibagi ke dalam tiga komisi yang memiliki fungsi berbeda. Komisi I bertugas merancang AD/ART, komisi II menyusun program kerja DPP lima tahun ke depan, dan komisi III merumuskan rekomendasi terhadap penyelenggaraan Munas Jakarta.
Sidang ketiga komisi tersebut dilaksanakan di Krakatau Ballroom yang telah dibagi ke dalam tiga ruangan. Terlihat begitu terburu-burunya panitia melaksanakan Munas Golkar di Jakarta ini. Selain tidak ada pemisahan ruang yang digunakan selain Krakatau Ballroom, masing-masing sidang paripurna pun tampak begitu dipercepat pelaksanaannya.