Ari Dwipayana selaku pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada melihat ketidakmampuan partai dalam menanamkan nilai demokrasi di internal partai menyebabkan gagalnya regenerasi di mayoritas parpol.
"Seringkali kompetisi (untuk jabatan ketua umum) hanya diikuti oleh orang-orang yang sama. Padahal, semestinya pintu kompetisi dibuka secara luas dan demokrasi dilakukan masing-masing partai," kata Ari saat dihubungi CNN Indonesia, Sabtu (27/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hal tersebut menyebabkan munculnya tokoh sentral untuk menjadi pembuat solidaritas di parpol," kata Ari melanjutkan.
Ari mencontohkan pemilu 2014 sebagai contoh kasus pemilu dengan sistem proporsional terbuka.
"Dalam sistem ini, figur menjadi penting dan tepat dalam menaikkan jumlah suara parpol dalam pemilu. Itu adalah dorongan elektoral," ujar Ari.
Hingga akhir Desember 2014 ini tercatat sudah dua partai politik besar yang mengalami konflik internal di Indonesia yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Golongan Karya (Golkar). Dualisme kepengurusan lama disebutkan menjadi pemicu utama konflik di kedua partai tersebut.