"Iya pemerintah harus jelas memposisikan Bulog seperti apa. Sekarang ini kan posisinya masih campur aduk," kata Viva Yoga pada saat dihubungi oleh CNN Indonesia, Selasa (24/2) malam.
Menurutnya, salah satu alasan dibalik kejadian tersebut adalah karena masih terbagi-baginya tugas utama dari Bulog, antara tugas sosial dan tugas mencari laba.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh karena status Bulog sebagai BUMN, Viva Yoga menilai belum maksimalnya Bulog menjalankan tugas sebagai stok penyangga nasional. Hal tersebut disebabkan karena Bulog benar-benar tergantung pada pemerintah.
Seperti laporan diterima Komisi IV terdapat terdapat Cadangan Beras Pemerintah (CPB) sebanyak 1.8 juta ton untuk persediaan secara nasional selama enam bulan.
"Sudah mengetahui bahwa terjadi penurunan volume panen, sudah mengetahui bahwa penerima raskin itu akan menyerbu pasar pasar, tapi kenapa tidak dilakukan penambahan kuota ke pasar-pasar. Dalam kondisi sekarang pemerintah harus segera perintahkan Bulog melepas beras," kata dia mempertanyakan.
Oleh sebab itu, iapun menyarankan kepada Presiden Joko Widodo untuk dapat memaksimalkan kinerja Bulog dengan mengembalikan posisi Bulog ke posisi semula.
"Kalau saya usulkan, balik saja seperti dulu bukan lagi Perum tapi jadi Lembaga Pemerintah non-Kementerian. Jadi, bertanggung jawab langsung kepada Presiden," sarannya. (utd)