“Seharusnya ada deputi khusus yang membawahi bidang partisipasi publik dan penggalangan bidang politik,” kata Panel Barus dari Sekber Partisipasi kepada CNN Indonesia, Kamis (5/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun hal itu tak disepakati oleh relawan Jokowi. “Untuk mengurus bidang ekonomi sudah ada Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional) dan Menko Perekonomian. Nanti jadi tumpang tindih. Padahal yang diperlukan Kantor Staf Presiden adalah komunikasi politik dan penggalangan rakyat yang baik,” ujar Panel.
“Banyak masalah yang harus dikelola, dan rakyat mestinya diajak untuk mengindentifikasi dan menyelesaikan masalah. Jadi bukan lagi pakai sistem kebijakan top down. Tanya dulu ke rakyat butuhnya apa, supaya tidak mubazir,” kata Panel.
Soal dilembagakannya partisipasi publik itu, menurut Panel, sesungguhnya sudah pernah diucapkan sendiri oleh Jokowi. “Pak Jokowi meminta relawan tidak bubar agar bisa mem-backup program pemerintah. Akan dibentuk unit kerja khusus untuk relawan. Itu pernyataan Presiden,” ujar dia.
Dalam pandangan relawan unit kerja khusus relawan itu seharusnya berada di kantor Luhut, karena Luhut pun bagian dari relawan. “Tapi saya tidak lihat keterlibatan kawan-kawan relawan di sana –relawan yang original,” kata Panel.
Sekber Partisipasi meminta Jokowi untuk tidak meremehkan relawan. “Kompetensi relawan itu tinggi. Kalau Pak Jokowi memerintahkan relawan untuk membantu, kami punya nama-nama terbaik, pimpinan-pimpinan relawan Jokowi yang original. Itu jika diminta,” ujar Panel.
Sayang saat ini, ujarnya, malah ada orang-orang “tak jelas” yang mengisi Kantor Staf Presiden. Menurut Sekber Partisipasi, nama-nama yang diusulkan duduk sebagai deputi dan staf disinyalir merupakan tim sukses lawan saat Pilpres.
Relawan khawatir orang-orang yang ditempatkan di Kantor Staf Presiden itu tak mampu mengelola dinamika politik seperti yang terjadi beberapa bulan terakhir ini ketika Jokowi dikritik habis-habisan terkait kisruh KPK-Polri. (agk)