Hammam menilai keengganan partai politik (parpol) untuk menggunakan teknologi baru dalam pemungutan suara menjadi salah satu alasan ketidakyakinan KPU.
"KPU sebagai lembaga penyelenggara melayani semua kandidat partai. Sementara parpol punya pemikirannya sendiri," kata Hammam saat ditemui di gedung BPPT, Jakarta, Rabu (29/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita juga tidak mau buru-buru. Yang penting, KPU yakin dulu. Sayangnya, sampai sekarang, KPU belum yakin," katanya.
"Kami minta diberikan kesempatan untuk mengajari semua pihak menggunakan teknologi ini. Saya rasa bukan sebuah pekerjaan yang sulit mengingat sekarang teknologi informasi dan internet sudah menjadi kebutuhan mendasar bagi masyarakat," katanya.
Lebih lanjut, Kepala Program Sistem Pemilu Elektronik BPPT Andrari Grahitandaru menjelaskan satu komputer dapat melayani 100 pemilih. Selain dinilai lebih akurat dan efisien, Andrari mengatakan e-voting juga akan menghemat banyak biaya.
"Dengan e-voting, pemerintah akan menghemat biaya kertas pemungutan suara yang selama ini masih dikeluarkan," katanya.
Selain itu, Andrari juga menilai potensi kecurangan akan berkurang sebab suara akan secara otomatis terkirim ke server KPU. Dengan begitu, KPU juga tidak perlu melakukan penghitungan suara secara manual. Oleh karena itu, Andrari menyatakan pihaknya telah siap untuk pilkada serentak.
Pilkada serentak pada tahun ini akan diselenggarakan pada 9 Desember mendatang. Jumlah pemilih diperkiakan sebanyak 102 juta orang dengan daerah pemilihan 269 kabupaten/kota.
Sementara jumlah tempat pemungutan suata diperkirakan lebih dari 278 ribu dan melibatkan calon kepala daerah sebanyak 600 orang.
Sebelumnya, Komisi Pemilihan Umum memang menyatakan ragu menggunakan teknologi informasi (TI) secara masif untuk keperluan pemilihan kepala daerah serentak. Pasalnya, meski sudah menggunakan teknologi e-voting, hal itu baru sebatas uji coba di level pemilihan kepala desa.
Komisioner KPU Arief Budiman mengatakan belum merasa 100 persen aman menggunakan teknologi yang tengah dikembangkan untuk pilkada serentak di 204 daerah. Meski demikian Arief tak menampik jika penggunaan teknologi ini bisa menghemat biaya dalam jangka panjang. (pit)