Pengamat politik Arya Fernandes menilai dinamika ini terjadi karena ketidakjelasan sistem penjaringan kandidat di internal partai. Selain itu juga disebabkan tidak bakunya aturan yang mengatur seleksi kandidat. (Lihat Juga: FOKUS Politik Acak Pilkada Serentak)
Faktor lainnya adalah tidak diberikannya kesempatan yang sama kepada setiap orang untuk mencalonkan diri. Sehingga, Arya menilai kader akhirnya tidak mendapatkan kesempatan dalam pencalonan. (Lihat Juga: Pilkada Serentak, Waktunya Politikus Pusat Bertaruh di Daerah)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dinamika pindah perahu ini banyak terjadi jelang pendaftaran pasangan calon kepala daerah. Salah satunya seperti yang dilakukan Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Saan Mustopa.
Hal serupa juga dilakukan Politikus Partai Persatuan Pembangunan Irna Narulita. Bersama Tanto Warsono Arban, Irna akan maju dalam Pilkada Pandeglang.
Pencalonan pasangan ini didukung PKB, PKS, Nasdem, Demokrat, Hanura, PBB, Golkar, Gerindra, PAN dan PDI Perjuangan. PPP sendiri mendukung pencalonan ini namun belum memberikan surat rekomendasi akibat dualisme di internal partai. (utd)