"Yang memfasilitasi, karena Pak Donald Trump itu mempunyai mitra, mitranya di sini adalah Pak Hary Tanoe," ujar Tantowi saat ditemui di Gedung DPR, Rabu (9/9).
Tantowi menegaskan, pertemuan itu sebatas obrolan antara delegasi parlemen dengan pebisnis. Konteks pembicaraan pun tidak ada yang menjurus pada persoalan politik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Indonesia adalah negara yang prospektif untuk mengundang turisme," ujar Tantowi menirukan omongan Trump.
Menurut Tantowi, ketertarikan Trump terhadap investasi di Indonesia bakal lebih cenderung mengarah ke sektor properti, seperti hotel. “Seperti yang di Sukabumi, di Bali juga ada," ujarnya.
Pertemuan antara Setya Novanto dan Fadli Zon dengan Donald Trump menimbulkan pro kontra publik. Sejumlah pihak menilai, pertemuan tersebut terindikasi melanggar kode etik anggota Dewan.
Setya dan Fadli bahkan dilaporkan ke Majelis Kehormatan Dewan lantaran pertemuan tersebut. MKD menyebut, mereka memiliki waktu dua pekan untuk menindaklanjuti laporan tersebut.
Atas tindakan Setya dan Fadli itu, mereka diberondong dengan tujuh petisi di situs change.org. Petisi dari masyarakat itu menuntut kedua tokoh politik untuk meminta maaf, mengundurkan diri, bicara terus terang soal motivasi, atau dicopot jabatannya.
Satu petisi dibuat Hafidh Alfi dari Semarang, Jawa Tengah tiga hari lalu. Petisi ditujukan pada Setnov, panggilan Setya Novanto dan Fadli Zon.
Hafidh meminta keduanya menjelaskan dan meminta maaf kepada masyarakat Indonesia atau mengundurkan diri dari pimpinan DPR RI sebagai pertanggung jawaban atas kedatangan ke kampanye bakal calon Presiden Amerika Serikat dari Partai Republik itu. (rdk)