"Persoalan itu terlalu kecil dan terlalu teknis. Kami tadi berbicara bagaimana caranya mencapai cita-cita bangsa," ujar Rizal di depan kediaman Megawati, di Jakarta, Rabu (9/9) petang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian, Rizal berkata, Trisakti tidak berarti antiasing. Menurutnya, pemerintah tetap harus mempertahankan politik bebas aktif.
Rizal yang secara struktural pernah berada di bawah Megawati pada saat menjadi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan Menteri Ekonomi pada era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid ini menuturkan, saat ini beberapa kelompok ingin mempertahankan status quo Indonesia.
"Banyak kepentingan KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) yang tidak mau Indonesia berubah. Apapun yang terjadi, kami siap mengambil resiko karena itu memang bagian dari perjuangan," kata Rizal.
Sejak dilantik 12 Agustus lalu Rizal Ramli beberapa kali mengeluarkan pernyataan kontroversial. Salah satunya adalah soal kritiknya tentang rencana pembangunan pembangkit listrik 35 ribu megawatt. Rizal menilai program 35 ribu megawatt tidak masuk akal.
Beberapa hari terakhir, Rizal juga mengkritik sistem pembayaran listrik prabayar menggunakan token. Ia menuding ada mafia dalam sistem ini. Masyarakat dinilai Rizal hanya menerima manfaat sekitar 73 persen dari uang yang dikeluarkan untuk membeli pulsa listrik. (sur)