"Sekarang publik menghendaki adanya keterbukaan dan transparansi, dan juga berharap agar seorang tokoh itu bisa memiliki sikap yang dapat menjadi teladan, menghormati etika. Itu yang sangat diharapkan publik," kata Akbar dalam keterangannya, di Jakarta Selatan, Rabu (18/11).
Menurutnya, hal itu dapat menjadi acuan untuk mencari solusi masalah yang dihadapi Setya Novanto. Meski demikian, Akbar menyerahkan sepenuhnya proses kasus tersebut kepada Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD), untuk mendapat kejelasan.
Lihat juga:Jaring Masalah Setya Novanto |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mungkin, menit-menit ke depan atau jam-jam ke depan saya akan coba komunikasi lagi dengan ARB," ujar Akbar.
"Itu yang akan kita lakukan untuk selesaikan masalah yang terjadi di kepemimpinan dewan. Khususnya Setnov," kata Akbar.
Akbar mengenal sosok Setya Novanto sebagai salah seorang yang direkrut pertama kali di DPP Golkar saat dirinya terpilih menjadi Ketua Umum pada tahun 1998. Sejauh ini, di mata Akbar, Setya Novanto, baik-baik saja dan tidak bermasalah.
Setya Novanto menghadapi sejumlah kasus pada pekan ini. Selain pencatutan nama Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, serta dugaan lobi pembelian pesawat amfibi US-2 di Jepang.
Setya juga menyertakan beberapa surat lampiran, seperti notulensi rapat negosiasi awal antara Pertamina dengan OTM, surat berisi penyesuaian kapasitas tangki timbun di PT Orbit Terminal Merak, surat review kerjasama pemanfaatan terminal BBM Merak, dan lainnya. (gir/gir)