"Kemarin, (Tommy) sudah mau ikut Munas Riau tapi tidak jadi dan mundur. Dia menyadari saat itu iklimnya belum kondusif. Ke depan, kalau mau maju lagi silakan, "kata Akbar di kantornya, kemarin.
"Kami berikan hak semua orang yang merasa bagian organisasi Golkar dan dia mau mengikuti proses seleksi kepemimpinan," ujar Akbar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tokoh senior Golkar lain, Ibrahim Ambong menilai kembalinya keluarga Soeharto memimpin Golkar mungkin saja terjadi. Sebabnya, sejarah berdirinya Golkar tidak lepas dari Presiden Soeharto. Sehingga, keluarganya dilihat memiliki keterikatan moral.
Meski demikian, menurut anggota Dewan Pertimbangan Partai Golkar, Anwar Arifin, saat ini lebih penting membicarakan rekonsiliasi dan islah partai dibanding sosok untuk maju menjadi ketua umum mendatang.
"Di kalangan kami, belum sampai ke situ. Sekarang yang penting bersatu dan islah. Nanti siapa yang mau tampil itu hak delegasi," kata Anwar.
Pernyataan Anwar diamini oleh Akbar. Menurut Akbar, dengan kondisi konflik yang masih berlangsung, pembicaraan mengenai ketua umum menjadi tidak relevan dilakukan saat ini.
"Menurut saya dengan kondisi ini tidak relevan. Yang paling relevan bagaimana membangun kembali partai ini untuk dapat mengikuti agenda politik dan organisasi ke depan dan memberi kesempatan bagi kepemimpinan yang baru," ucap Akbar.
Wacana kembalinya keluarga Soeharto untuk memimpin Golkar sebelumnya dihembuskan Ketua DPP Partai Golkar hasil Munas Jakarta, Leo Nababan. Dia berpendapat sebaiknya calon-calon ketua umum dalam Munas nanti layak diberikan kepada kader-kader muda seperti Airlangga Hartanto, Tommy Soeharto, Ade Komarudin atau Agus Gumiwang. (utd)