Menurut Rhoma, perilaku teror pada dasarnya dimiliki oleh hampir setiap agama. Dengan demikian dia tidak menghendaki Islam disandingkan sebagai agama teroris.
"Terorisme itu urusan politik, bukan persoalan agama," kata Rhoma usai melantik Dewan Pimpinan Wilayah Partai Idaman di Hotel Sari Pan Pasific, Jakarta, Rabu (20/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:LPSK Dukung Penguatan UU Terorisme |
"Saya teu sieun pak," kata Rhoma meyakinkan pihak pengelola hotel yang juga berdarah sunda. "Justru saya di sini untuk menunjukkan bahwa Idaman tak gentar menghadapi teror. Tugas Idaman adalah melawan teroris," kata Rhoma.
Berseragam jas hijau dengan logo tangan membentuk hati, personel lengkap Soneta Group yang terpekur di atas panggung selama Rhoma berpidato lantas menyiapkan diri dengan alat musiknya setelah mendapat instruksi dari Bang Haji. Musik dangdut pun menghentak, alunannya menggema di seisi ruang ballroom hotel.
Meski acara dikemas resmi dengan susunan bangku dan meja tertata rapi, namun tabuhan gendang dan petikan melodi berdistorsi kasar dari Soneta Group tak kuasa menahan gairah para kader partai maupun Forsa (Fans Rhoma Irama and Soneta) untuk ikut bergoyang larut dalam alunan musik si Raja Dangdut.
Nuansa dangdut semakin kental mewabah di seisi ruangan tempat gelaran Partai Idaman. Terlebih, kolega-kolega Rhoma di dunia musik dangdut pun turut hadir menyemarakkan suasana, yakni Jaja Mihardja, Dorce Gamalama, Mansyur S, Rita Sugiarto, Endang Kurnia, Caca Handika, dan Ridho Roma.
Partai Idaman merupakan partai pendatang baru yang dideklarasikan secara nasional pada 14 Oktober 2015, bertepatan dengan tanggal Islam 1 Muharram 1437 H. Partai besutan si Raja Dangdut itu mengusung visi menampilkan citra yang menjadi rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil alamin) serta membangun Indonesia berdasarkan nilai-nilai Pancasila. (bag/bag)