"Saya dapat pengakuan langsung dari yang menerima. Bukan rumor tujuan saya adalah bukan untuk menyudutkan orang, tujuan saya mengajak mereka untuk mengehentikan ini Karena ini tidak sehat karena ini juga yang merusak Golkar," kata Nurdin di Kantor DPP Partai Golkar, Jumat (19/2).
Nurdin tak mempermasalahkan apabila Caketum Golkar yang sedang menjalankan safari politiknya memberikan uang transport, uang saku dan uang penginapan. Tapi menurutnya, sangat tidak dibenarkan jika uang tersebut melebihi Rp25 juta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Golkar akan rusak, kalau KPK masuk nangkap mereka karena diduga gratifikasi. Sebelum Munas malah, rusak Golkar. Jadi itu yang saya jaga, bukan saya sok jujur," ucap Nurdin.
Dia juga mengaku sudah menasehati pengurus Golkar yang terlibat menerima uang tersebut. Nurdin pun menjelaskan kronologi dugaan politik uang tersebut. Hal itu didengarnya langsung dari seorang pengurus yang menerima duit panas itu.
"Dari resepsionis dia masuk ke kamar disuruh teken pernyataan dukungan setelah itu diserahkan amplopnya, ini sebelum pertemuan," ungkap Nurdin.
Dia juga mengaku telah menghubungi semua Caketum Golkar untuk menghentikan permainan politik uang jelang Munas. Nurdin mempersilahkan para Caketum untuk meminta dukungan seluruh DPD namun tidak transaksional.
"Mari kita ciptakan suasana demokrasi di internal Golkar dengan memberikan pencerahan demokrasi bagi bangsa ini," imbuh Nurdin.
Tawaran uang
Sebelumnya, Nurdin Halid menyebutkan telah ada tawaran sejumlah duit jelang gelaran musyawarah nasional (Munas) kepada pengurus Dewan Pimpinan Daerah tingkat II oleh calon ketua umum.
Terdapat tiga poin hasil pertemuan itu. Pertama, kata Nurdin adalah membuka ruang bagi siapapun kader untuk maju menjadi calon ketua umum. Kedua, akan melaporkan calon yang hendak melakukan politik transaksional.
Terakhir, menyepakati tidak memperbolehkan DPD II berhubungan langsung dengan calon untuk menghindari politik transaksional dalam bentuk pemberian duit terjadi. (den)