Kedua tokoh yang berbeda pendapat terkait pemilihan gubernur DKI Jakarta, bertemu dalam peluncuran buku ‘Megawati dalam Catatan Wartawan: Menangis dan Tertawa Bersama Rakyat.’
Menurut penulis sekaligus ketua panitia acara peluncuran buku, Niniel WDA, undangan kepada Ahok diberikan atas kesepakatan panitia acara peluncuran buku. Sekitar 500 undangan disebar ke berbagai kalangan.
Lihat juga:Ruhut Sebut Megawati Sayang Ahok |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Niniel, dia sempat berkonsultasi kepada Megawati dan Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengenai undangan kepada Ahok.
Pada saat acara peluncuran buku, Ahok datang terlambat. Dia segera bersalaman dengan Megawati. Meski begitu, kedatangan Ahok ini membuat Megawati terkejut.
"Nah, itu Pak Ahok datang. Saya heran juga dia datang. Soalnya ada ‘sampingannya’ yang bully saya tuh.”
Salah satu agenda acara itu adalah pemberian 10 buku kepada orang-orang yang dianggap memiliki hubungan dekat dengan Megawati. Sebagai ketua panitia, Niniel memilih Ahok sebagai orang yang pertama kali menerima buku dari Megawati. Para tamu bertepuk tangan dengan riuh saat Ahok menerima buku pertama dari Megawati.
“Saya ingin menunjukkan bahwa meskipun memiliki perbedaan tapi hubungan silaturahmi tidak boleh putus, Ahok dan Megawati adalah orang-orang yang punya perspektif yang luas,” kata Niniel.
Selama acara peluncuran buku Rabu malam, Megawati berulangkali memberikan sentilan kepada Ahok. Selain itu, saat Megawati menarik dana sumbangan untuk penerbitan buku, dia enggan menariknya dari Ahok. Padahal Megawati meminta para tokoh politik yang dekat dengan dirinya untuk menyumbangkan uang.
"Kalau (minta ke) yang itu (Ahok), nanti saya di-bully lagi. Nanti saja. Tunggu tanggal mainnya," kata Megawati.
"Hubungan aku dengan Mega melampaui partai politik. Hubunganku dengan Ibu Mega kan seperti kakak-adik. Makanya kalau PDIP marah sama saya, saya bilang 'Gue bukan orang PDIP kok. Gue orangnya Bu Mega,'" kata Ahok setelah acara berakhir. (yul)