“Saya tanya ke Ketua Majelis Syuro. Beliau jawab, saya tidak punya salah, saya kader terbaik PKS. Saya merasa Ketua Majelis Syuto tidak mantap, ragu, terhadap keputusan (memecat saya),” kata Fahri dalam konferensi pers di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (4/4).
Politikus asal daerah pemilihan Nusa Tenggara Barat itu tak merasa memiliki persoalan dengan partai. “Saya tanya kepada Ketua Forum Pembinaan, saya tidak pernah punya catatan dan masalah satu pun. Tidak pernah juga fraksi mengevaluasi saya. Tiap rapat, saya hampir tidak pernah absen,” ujar Fahri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Rupanya dialog-dialog saya dianggap sebagai tindakan tidak disiplin. Padahal dialog itu permintaan pribadi. Beliau (Ketua Majelis Syuro) mengatakan tidak akan memaksa saya mengundurkan diri,” kata Fahri.
“Saya adalah deklarator partai pada 1998. Sepuluh tahun terakhir saya jadi Wakil Sekjen Partai. Pimpinan baru (PKS) saja tidak masuk dalam struktur. Tapi tiba-tiba saya mau dihabisi sampai sehabis-habisnya,” ujar Fahri.
Pernyataan tersebut, menurut Sohibul, diadukan oleh sebagian anggota DPR ke Mahkamah Kehormatan Dewan DPR, dan di kemudian hari Fahri diputus MKD melakukan pelanggaran kode detik ringan.
“Dosa-dosa” Fahri lainnya yang disebut oleh Dewan Pimpinan Pusat PKS antara lain mengatasnamakan DPR telah sepakat untuk membubarkan KPK, dan pasang badan untuk tujuh proyek DPR meski itu bukanlah arahan pimpinan partai.