Pernyataan itu bak gayung bersambut dengan pendapat Ketua DPD Partai Golkar Sulawesi Tenggara, Ridwan Bae, yang lebih dulu mengeluarkan pernyataan soal tak perlunya diselenggarakan Munaslub.
"Kalau itu keputusan bersama, itu lebih baik," kata Ade di Gedung DPR, Rabu (27/4). Meski begitu, Ade mengatakan, dia tetap akan menunggu hasil keputusan rapat pleno DPP Golkar, yang akan digelar besok, Kamis (28/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Ridwan Bae menilai Munaslub tak perlu digelar dengan alasan sudah disahkannya komposisi dan pengurus DPP Golkar, masa bakti 2014-2019, oleh Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly.
Sementara itu, Yasonna Laoly mengatakan, pelaksanaan Munaslub merupakan salah satu persyaratan dirinya mengesahan kepengurusan Munas Bali. Yasonna menyerahkan sepenuhnya pelaksanaan Munaslub kepada Partai Golkar.
"Dalam persyaratan, Munaslub diadakan selambat-lambatnya pada bulan ramdahan yang jatuh pada Juni 2016," kata Yasonna.
Terkait biaya pendaftaran calon ketua umum Golkar sebesar Rp5-10 miliar, Ade enggan berkomentar. Menurutnya itu masih sekadar wacana. Dia berpatokan pada keputusan yang dikeluarkan oleh DPP Golkar.
"Yang diputuskan pasti untuk kebaikan partai bukan menghancurkan partai," ujarnya.
Sebelumnya, Ketua Steering Committee (SC) Munaslub Golkar Nurdin Halid menuturkan, calon ketum wajib membayar Rp5-10 miliar sebagai persyaratan pendaftaran. Pembebanan biaya atas rekomendasikan SC itu dialokasikan untuk keperluan yang sangat bersentuhan dengan calon ketua umum seperti debat kandidat, kampanye hingga transport peserta.
(meg)