Menurut Aryo yang juga keponakan Prawobo itu keinginan tersebut adalah wajar mengingat Gerindra pada pemilihan legislatif 2014 lalu menempati ururan kedua terbesar setelah PDI Perjuangan di Jakarta. “Suara kami di DPRD DKI Jakarta sebanyak 17 kursi, kedua terbanyak setelah PDIP. Untuk bisa mengusung kader sendiri syaratnya harus memiliki 22 kursi,” ujar Aryo kepada CNNIndonesia.com, Selasa (2/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aryo menekankan bahwa ada prosedur yang harus dijalankan oleh setiap calon gubernur, seperti penyaringan dan uji kelayakan. “Yang jelas Pak Prabowo mengedepankan calon gubernur yang diusungnya adalah dari kader Gerindra. Itu sesuai dengan Rakornas Gerindra pekan lalu yang sudah memilih Sandiaga Uno sebagai calon,” tuturnya.
“Dengan siapapun kami masih membuka koalisi, kecuali dengan tiga partai yang sudah definitif mendukung Ahok yaitu NasDem, Hanura, dan Golkar,” ujar Aryo.
Dia menambahkan meski nanti berkoalisi namun Gerindra tetap menginginkan agar kadernya yang diposisikan sebagai calon gubernur. “Pak Yusril Ihza dan Sjafrie Sjamsoeddin tak bisa diusung sebagai calon gubernur oleh Gerindra karena Pak Prabowo ingin mengedepankan kader partainya sendiri sebagai calon gubernur,” kata Aryo.
Sementara itu Partai Kebangkitan Bangsa tengah memfinalisasi nama bakal calon gubernur DKI Jakarta yang akan mereka usung pada Pilkada Jakarta 2017. Kader Partai Gerindra Sandiaga Uno merupakan salah satu kandidat terkuat yang mereka pertimbangkan.
Wakil Sekretaris Jenderal PKB, Daniel Johan, mengatakan dukungan terhadap Sandiaga masih dibahas pengurus daerah. Dukungan Sandiaga, kata Daniel, juga menunggu terbentuknya koalisi partai.
(obs)