Megawati yang hingga kini belum menentukan calon gubernur yang bakal diusung dalam pemilihan kepala daerah DKI Jakarta, sangat ditunggu oleh publik apakah akan mengusung Risma atau menjatuhkan pilihan kepada kandidat petahana Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang bukan merupakan kader PDIP.
Kehadiran Risma juga bisa diartikan sebagai bagian perkenalan dari kandidat yang masuk dalam bursa calon kepala daerah Jakarta, meski status Risma sebagai pemberi materi di satu sisi dapat dipersepsikan tak menguatnya dukungan kepada dirinya dari sang ketua umum.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam acara yang digelar di Wisma Kinasih, Depok, Jawa Barat, kemarin, itu Megawati pun sempat menyinggung posisi Risma yang sangat dilematis. Di satu sisi dukungan untuk Risma agar dimajukan sebagai calon gubernur Jakarta sangat besar namun di sisi lain muncul penolakan yang kuat dari warga Surabaya.
Tarik menarik Risma pada dua kutub selama ini sangat kencang. Kubu yang mendukung Risma untuk dimajukan sebagai calon gubernur Jakarta sangat kuat, baik dari internal PDIP, partai politik seperti PAN, Demokrat, dan PKS, maupun dari berbagai unsur masyarakat ibu kota. Hingga saat ini pun gelombang dukungan sekaligus tekanan kepada PDIP agar mengusung Risma masih terus mengalir.
Pada satu titik sebelum batas akhir pendaftaran calon kepala daerah Jakarta pada 21 September 2016, Megawati harus menentukan pilihan, apakah bakal memutuskan mengusung Ahok atau Risma atau bahkan mungkin calon lainnya sebagai calon gubernur. Tarik-ulur hanya tinggal bisa dilakukan dalam beberapa hari ke depan.
Selain dituntut untuk bisa tepat memutuskan siapa calon yang nantinya bakal disokong, Megawati juga harus mampu mengakomodasi segala aspirasi yang selama ini berkembang. Di dalam tubuh PDIP sendiri sudah terbelah, sebagian mendukung Risma dan sebagian lain menghendaki Ahok melanjutkan kepemimpinannya.
Seperti apakah titik kompromi yang bakal diambil Megawati, termasuk soal Risma yang menjadi bagian dari negosiasi? Masyarakat luas sangat menunggu, dan lebih dari itu pastinya warga Jakarta mengimpikan memiliki gubernur yang ideal.
(obs)