"Untuk meningkatkan partisipasi pemilih, kami merancang pendidikan pemilih berkelanjutan dengan segmen pemilih pemula yakni sasarannya pra pemilih dan pemilih pemula," kata Sigit di Jember, Jawa Timur, Rabu (21/9), seperti dilansir Antara.
Sasaran pemilih pemula adalah mereka yang berada di universitas, sekolah, dan kelompok pemuda. Pendidikan pemilih dilakukan lewat berbagai kegiatan seperti seminar dan dialog yang diharapkan dapat meningkatkan kesadaran pemilih pemula untuk berpartisipasi dalam pemilu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Pilkada serentak tahun 2015, kata dia, target KPU terhadap angka partisipasi pemilih belum maksimal dan masih di bawah target yakni sekitar 70 persen. Padahal target KPU untuk partisipasi pemilih mencapai 77,5 persen.
Sigit juga menyoroti sistem pemilu di Indonesia yang menurutnya perlu dimodifikasi. Sebab, sistem pemilu proporsional representatif yang saat ini digunakan, berpotensi melahirkan sistem kepartaian yang plural namun terpolarisasi.
Hal tersebut, menurut Sigit kurang sesuai dengan sistem presidensial di negara Indonesia.
"Modifikasi sistem pemilu diharapkan dapat melahirkan sistem kepartaian pluralisme moderat dengan cara memperkecil besaran kursi yang direbutkan di setiap daerah pemilihan," katanya.
Pilkada serentak tahap II akan dilaksanakan pada 15 Februari 2017 di tujuh provinsi, 18 kota, dan 76 kabupaten se-Indonesia. Tujuh provinsi yang menggelar Pilkada serentak adalah provinsi Aceh, Bangka Belitung, DKI Jakarta, Banten, Gorontalo, Sulawesi Barat, dan Papua Barat. (wis)