Nama Agus dan Sylviana memang tidak pernah terdengar akan dicalonkan dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) DKI Jakarta.
“Ini menunjukkan, pilkada DKI bukan pertarungan antarcalon saja, tetapi juga pertarungan besar di level nasional. Tentu nama Agus dan Sylviana bisa mengimbangi popularitas calon petahana,” ujar Yunarto kepada CNNIndonesia.com, Jumat (23/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Harus tokoh yang enggak dari partai sama sekali. Jadi pencalonan Agus dan Sylviana memang telah mewakili itu. Dengan segala kelebih yang dimiliki, dan kekurangan yang bisa ditutupi satu sama lain,” tutur Yunarto.
Yunarto menyebut, kecederdasan dan intelektualitas Agus dan Sylviana tidak dapat diragukan lagi. Agus juga disebut memiliki sesuatu yang dapat menandingi elektabilitas Ahok.
Sementara kekurangan dia dalam hal usia muda dan tidak berpengalaman dalam birokrasi, dapat ditutupi oleh Sylviana. Dalam hal jaringan politik, meski bukan kader partai, tentu saja Agus akan menggunakan jaringan yang lama dibangun ayahnya.
“Sylviana juga punya jejaring politik yang bagus di birokrat, dia Betawi asli, dan jaringan pramuka sangat baik. Hal ini enggak bisa diremehkan. Sebagai PNS terbaik di DKI, dia punya modal untuk kampanye dan bekerja,” ujarnya.
PDIP resmi mengumumkan pencalonan Ahok-Djarot pada Selasa malam (20/9), dan mendaftarkan diri keesokan harinya. Sementara itu, empat partai yang tergabung dalam poros Cikeas mulai melakukan pertemuan maraton sejak Rabu malam (21/9). (rdk)