Bahkan Presiden Joko Widodo dalam merespons kasus yang melibatkan calon Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok itu merasa perlu membicarakan secara khusus dengan tokoh-tokoh Islam. Petinggi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan Majelis Ulama Indonesia dikumpulkan. Tak kurang Jokowi juga menemui tokoh nasional sekaliber Prabowo Subianto.
Pengamanan yang disiapkan untuk antisipasi demonstrasi agar tak rusuh juga telah disiagakan dengan kekuatan penuh. Penarikan pasukan kepolisian dan tentara dari daerah bahkan juga turut dilakukan untuk membantu pengamanan di ibu kota.
Seberapa amat urgenkah sehingga sang Presiden begitu sangat reaktif dalam menyikapi rencana unjuk rasa yang bakal digelar oleh sejumlah organisasi kemasyarakatan Islam itu? Dan apakah ini hanya menyangkut “bacaan” persoalan hukum penuntasan kasus dugaan penistaan agama oleh Ahok, dan atau juga berujung pada manuver dipersaingan memperebutkan kursi gubernur dalam pilkada Jakarta?
Arie mencermati bahwa sebenarnya yang menjadi awal persoalan yaitu adanya ketidakseimbangan kontestasi di persaingan antara calon gubernur Jakarta. Dua pasangan yang menjadi lawan petahana Ahok-Djarot, yaitu duet Agus-Sylvi dan Anies-Sandiaga, dianggap masih terlalu jauh untuk bisa menyaingi kekuatan Ahok-Djarot.
Dalam masa pra-kampanye pada awal Oktober lalu, Ahok yang menyitir Surat Al-Maidah Ayat 51 memunculkan kontroversi besar di publik. Polemik berkepanjangan pun muncul dan seolah tak bisa dihindari lagi. Menurut pandangan Arie, kasus tersebut oleh sejumlah kalangan umat Islam dijadikan momentum untuk “menjegal” Ahok.
Namun bagi Arie kasus Ahok tersebut bisa dijadikan momentum oleh sejumlah ormas Islam untuk menghadang laju Ahok atau menciptakan kondisi agar pertarungan memperebutkan jabatan gubernur menjadi lebih imbang.
Persoalan ini —yang poin penting di dalamnya ada aksi 4 November— di mata Jokowi, menurut Arie, berpotensi dapat mengganggu stabilitas ibu kota yang menjadi barometer politik nasional. Hal tersebutlah yang kemudian menjadi isu nasional.
Jokowi, kata Arie, membutuhkan legilimasi dari semua unsur bangsa, utamanya tokoh-tokoh Islam moderat dan nasionalis untuk menyikapi kelompok Islam garis keras yang akan menggelar aksi nanti.
“Ini jadi pertaruhan bagi Jokowi bagaimana bisa mengelola secara politik persoalan tersebut. Sejauh mana manageable persoalaan ini oleh Jokowi sebagai Presiden,” tutur Arie dalam perbincangan dengan CNNIndonesia.com.
Di sini, Jokowi juga tidak mau berspekulasi atas potensi kerusuhan yang mungkin terjadi pada unjuk rasa 4 November jika tidak dicegah dan diredam sejak dini.
“Karena bisa menjadi jebakan untuk membelah masyarakat Islam kalau Jokowi keliru dalam menyikapi dan bertindak,” ujar doktor di bidang sosiologi ini sembari mengingatkan banyaknya faksi-faksi dalam kelompok-kelompok Islam termasuk di parlemen yang bisa “bermain” di aksi ini.
Lihat juga:SBY Klarifikasi soal Demo 4 November |
(obs)