Presiden Joko Widodo terang-terangan menyebut seluruh kekacauan yang terjadi di Jakarta sepanjang Jumat hingga Sabtu dini hari ini telah ditunggangi oleh aktor-aktor politik. “Kita liat telah ditunggangi oleh aktor politik yang memanfaatkan situasi," Jokowi menyampaikan usai rapat terbatas yang digelar mendadak di Istana Merdeka.
Senada dengan Presiden, ormas keagamaan terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama meyakini pelaku kerusuhan yang terjadi di akhir Aksi Damai Islam di Jakarta, sudah direncanakan. Menurut Wakil Ketua Pengurus Besar PBNU As'ad Said Ali, bukan massa pengunjuk rasa yang memancing kerusuhan.
Juru bicara Partai Demokrat Didi Irawadi Syamsuddin menilai pernyataan Presiden ihwal ada aktor-aktor politik di belakang demo harus clear dan terang benderang. Presiden diminta menyebut langsung siapa aktor-aktor politik di belakang demo agar tidak menimbulkan persepsi liar.
Politisi Partai Gerindra Aryo Djojohadikusumo menekankan bahwa dari pernyataan Presiden tentu saja kalau ada aktor intelektual akan jauh lebih jelas jika menyebut siapa dalang di baliknya. “Saya yakin bapak Presiden tidak mungkin mengatakan itu tanpa intelijen yang tepat dan akurat.”
Pengamat politik Universitas Indonesia Cecep Hidayat berpendapat munculnya pertanyaan sekaligus tuntutan kepada Jokowi tersebut sebagai hal yang wajar. Setiap perkataan Presiden menjadi sorotan. Dalam hal ini idealnya Presiden mempunyai data intelijen yang lengkap dan akurat sebab kalau tidak bisa disangka hanya didasari oleh praduga.
Data intelijen, diakui Cecep, memang tidak perlu dan juga tidak semuanya bisa dibeberkan ke umum. Namun jika sudah terjadi perusakan atau huru-hara, artinya sudah masuk ke ranah hukum yang pada proses selanjutnya publik berhak mengetahui aktor yang bermain di balik itu semua. Namun di sini, tak perlu Presiden yang menyampaikan siapa otak kerusuhan ke publik, namun aparat penegak hukum lah yang menyampaikannya.
Penggunaan bahasa dari Jokowi bahwa kejadian di Jakarta ditunggangi aktor politik, dalam pandangan Cecep dibuat oleh Jokowi multitafsir sehingga setiap orang bisa menafsirkan sendiri-sendiri. “Sengaja dibuat pernyataan seperti itu. Menggunakan bahasa yang umum,” Cecep menuturkan dalam perbincangan dengan CNNIndonesia.com. Dia juga mengibaratkan Presiden menembak dengan satu peluru namun mengenai sejumlah sasaran.
Buntut dari kerusuhan bukan hanya soal siapa yang menjadi otak pelakunya yang menjadi pertanyaan publik tapi juga sikap Presiden yang tak langsung menemui perwakilan demonstran. Menurut Cecep, Presiden ada kesan menghindari bertemu langsung dengan massa dan sikap tersebut tentu memiliki tujuan tertentu.
Untuk menemui demonstran secara langsung bagi Jokowi adalah bukan pilihan yang tepat. Tak mudah bagi seorang Jokowi untuk menghadapi langsung perwakilan dari massa yang tekanannya begitu sangat kuat dan besar. “Di sini Presiden tidak mau terlihat lemah karena bukan perkara yang mudah kalau berhadap-hadapan secara langsung. Jokowi tidak mau ‘takluk’ oleh tekanan, yang itu semua supaya tidak terlihat lemah.”
Bukan perkara yang gampang pula bagi Presiden untuk membongkar secara gamblang ke publik dalang yang berada di belakang kerusuhan. Semuanya juga tak bisa dilepaskan dari hitung-hitungan politik.
Lalu, siapakah yang menjadi otak di balik kerusuhan pada Jumat malam dan Sabtu dini hari lalu? Hanya Presiden yang mengetahui persisnya. Selebihnya, publik hanya bisa menerka-nerka dengan pemikirannya masing-masing. (obs)