Selaku motor penggerak usulan hak angket e-KTP, Fahri mengaku sudah banyak dihubungi anggota dewan lainnya agar segera mengusulkan hak angket kasus yang menjadi skandal menyeret banyak nama.
"Saya sudah dapat SMS dan dukungan, WhatsApp, dari teman-teman yang siap untuk menjadi para pengusul. Kita lihat saja, besok (hari ini) mulainya pada masa sidang dimulai," ujar Fahri di Gedung DPR, Jakarta, kemarin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mantan kolega Fahri itu mengatakan, partainya belum membicarakan wacana hak angket. Dia justru mempertanyakan pencetus usulan hak angket ini.
Menurut Tifatul, hak angket cenderung bermuatan politis lantaran bisa berujung kepada pemakzulan. Dia juga pesimis usulan hak angket dapat tercapai karena terganjal partai pendukung pemerintah.
"Justru ketika masalah e-KTP ditarik ke wilayah politik melalui hak angket maka akan menimbulkan kecurigaan pada rakyat bahwa DPR akan membentengi elit-elit tertentu. Itu yang harus kita hindari," ujar Dadang.
"Yang dibutuhkan sekarang jangan sampai KPK tak bernyali mengusut dan menuntaskan kasus ini. Biar KPK menari dengan gendangnya sendiri. Kalau DPR ribut angket nsnti muncul tuduhan, DPR sudah "disetir" KPK," kata Hendrawan.
Sementara itu, anggota Komisi III DPR Fraksi PKS, Nashir Djamil mendukung usulan Fahri. Dia menilai hak angket yang diusulkan Fahri dapat menjadi ajang pembuktian bagi nama-nama yang disebut dalam dakwaan.
"Logikannya jika tidak menerima, mari kita bentuk dan gulirkan hak angket untuk mengetahui secara detail apakah benar unsur lain selain penegakan hukum yang dilakukan oleh KPK," kata Nashir.
Nashir menambahkan, pembentukan dan pengguliran hak angket adalah cara dewan untuk memastikan dan menjaga agar tidak terjadi pembusukan terhadap insititusi DPR.
Hak angket dalam Pasal 79 ayat 3, merupakan hak DPR untuk melakukan penyelidikan terhadap pelaksanaan suatu undang-undang atau kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan hal penting, strategis, dan berdampak luas pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang diduga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.
Kemudian pada Pasal 199 ayat 1 menyatakan syarat bergulirnya hak angket paling sedikit diajukan oleh 25 orang anggota DPR dan lebih dari satu fraksi. Hak angket menjadi resmi apabila disetujui rapat paripurna yang dihadiri setengah dari anggota DPR.