Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto pun memberikan kesan seolah tak lagi tertarik membicarakan rencana pembubaran itu.
"HTI libur dulu," ujar Wiranto, pekan lalu, saat ditanya soal perkembangan kasus HTI.
Lihat juga:Makna di Balik Frasa 'Gebuk PKI' Jokowi |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengamat politik dari Universitas Indonesia Aditya Perdana mengatakan ada beberapa hal yang membuat pemerintah seakan 'mengangkat pedal' dalam usaha membubarkan HTI yang dicap sebagai organisasi anti-Pancasila itu.
"Kalau ditanya apakah ada dampak tentu saja ada, makanya Presiden dan lingkarannya pasti menghitung dampaknya dengan serius," kata Aditya kepada CNNindonesia.com, Ahad (21/5).
Isu-isu yang dibawa baik oleh kelompok sekuler maupun non sekuler tersebut, mau tidak mau harus diperhitungkan karena pada kenyataannya memang gejolak bisa muncul dari perseteruan antar kelompok tersebut.
Pertimbangan lain adalah hitung-hitungan dampak pembubaran HTI terhadap peluang politik Joko Widodo di Pemilu Presiden 2019.
Aditya mengatakan, apapun langkah yang diambil Jokowi terhadap HTI akan mendapat respons dari kelompok Islam dan sekuler.
Contohnya, jika kelompok Islam konservatif tak mendukung langkah pembubaran HTI, maka Jokowi bisa berada dalam bahaya menyongsong 2019.
Lihat juga:MUI: Tak Semua Umat Islam Setuju Khilafah |
Jokowi juga rentan kehilangan suara dari kelompok sekuler jika urung membubarkan HTI.
Secara kasat mata, pergerakan kelompok sekuler memang tak senyata kelompok Islam konservatif. Namun, suara mereka juga tak bisa diremehkan.
Hal inilah yang membuat persoalan HTI perlahan seolah mengendap. Jokowi berada dalam posisi dilematis. Aditya menyebut Presiden saat ini berada dalam dua pilihan yang sama-sama beresiko.
"Pilihan pemerintah pada akhirnya bisa menjadi bumerang atau keuntungan," ujar Aditya.