Menurut peneliti senior lembaga Centre for Strategic of International Studies (CSIS) Josep Kristiadi, gerakan para tokoh nasional diibaratkan sebagai langkah peternak untuk mendapat hewan yang mereka mau. Langkah tokoh-tokoh politik itu bahkan, dinilainya, berisiko berdampak negatif untuk warga dan pemilih.
"Ini cuma pergeseran dan taktik-taktik dari para peternak itu untuk mendapatkan kekuasaan," kata Kristiadi di kawasan Wijaya, Jakarta Selatan, Jumat (11/8).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak Memanusiakan Pemilih, Pemilih Hanya Angka
Alih-alih membicarakan pertemuan yang melibatkan empat tokoh itu, Kristiadi justru meminta masyarakat kembali mengawal marwah demokrasi dan pemilu. Menurutnya, pasca Undang-undang Penyelenggaraan Pemilu disahkan martabat pesta demokrasi lima tahunan mengalami degradasi.
"Sekarang marwah dan martabat pemilu telah menjadikan para pemilih itu bukan manusia seutuhnya. Pemilih yang jumlahnya puluhan juta hanya menjadi angka," katanya.
Lihat juga:Manuver Politik AHY Kala Bertemu Jokowi |
Menurutnya, pembahasan hampir tak berujung tiga isu krusial itu membuktikan para politisi telah memosisikan pemilih sebagai angka, alih-alih manusia.
Hal itu disebutnya berdampak pada tidak terciptanya tujuan pemilu untuk menciptakan sistem pemerintahan yang efektif.
"Intinya sistem presidensial ini harus diperkuat, bermacam-macam caranya. Intinya kekuasaan Presiden harus didukung kekuatan partai yang besar di parlemen. Kedua, bagaimana menyingkirkan peternak kekuasaan menjadi politisi yang benar-benar membuat kebijakan bagi masyarakat," katanya.