Google tengah mengembangkan sebuah peranti lunak dengan tingkat kecerdasan buatan tinggi yang dapat mendeskripsikan sebuah gambar dengan akurat.
Bahkan nantinya peranti lunak ini ditargetkan bisa "melihat" gambar dan memberi tanggapan dengan cara yang kurang lebih sama dengan pola pikir manusia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam mengembangkan kecerdasan buatan, Google nampaknya dibantu oleh DeepMind. Google telah mengakuisisi DeepMind asal London sebesar US$ 400 juta pada Januari 2014.
Google bukan satu satunya pihak yang mengembangkan teknologi ini. Para ahli dari Stanford University, California, AS juga membuat terobosan serupa. Perbedaannya, kecerdasan buatan yang dihasilkan oleh Google menggunakan beberapa jaringan saraf dan bahasa pemrograman yang jauh lebih kompleks.
Elon Musk, pendiri perusahaan mobil listrik Tesla Motors dan perusahaan penerbangan antariksa komersial SpaceX, adalah salah satu orang yang menolak kecerdasan buatan. Bahkan, Musk mengatakan bahwa kecerdasan buatan merupakan teknologi yang lebih berbahaya dari nuklir.
Ketika peranti lunak memiliki kesadaran diri dan mampu mengembangkan diri di luar kendali manusia, hal ini akan membahayakan untuk manusia itu sendiri.
Menurut Musk, bukan dia saja yang mengkhawatirkan kecerdasan buatan. "Perusahaan yang mengembangkan kecerdasan buatan telah mengambil langkah-langkah untuk memastikan keamanan. Mereka mengenali bahaya ini, tetapi percaya bahwa mereka dapat membentuk dan mengontrol super intelijensi digital dan mencegah hal yang buruk dalam proses melahirkan diri kecerdasan buatan di internet. Itu masih harus diperhatikan," ujarnya.
Musk juga memprediksi, pada suatu saat nanti kecerdasan buatan ini dapat membangkitkan 'Terminator' dalam kehidupan nyata dan memusnahkan kehidupan manusia.