Ahli geologi dari UGM, Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D. mengatakan alat itu dipakai di daerah yang berdekatan dengan lokasi bencana tanah longsor. “Tapi berbeda desanya, alat itu kami pakai di Desa Kali Telaga,” kata Dwikorita kepada CNN Indonesia, Senin (15/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Longsoran tetap terjadi, tapi sebelumnya ada sirine sehingga warga sempat menyelamatkan diri,” katanya.
Alat itu, kata Dwikorita, sempat mendeteksi tanah longsor yang terjadi di Desa Kali Telaga. Sirine pun berbunyi dan masyarakat akhirnya bisa menyelamatkan diri. Beberapa rumah rusak, “Tapi tak ada korban jiwa,” tuturnya.
Dia bilang di Banjarnegara ada ilmu niteni atau ilmu memperhatikan, semacam kearifan lokal yang mampu mengenali gejala-gejala awal tanah longsor. Kearifan lokal itu, kata Dwikorita, sudah diteliti secara ilmiah dan bisa jadi alat mitigasi bencana.
“Tapi itu tak bisa diajari sekali saja, harus berulang-ulang,” katanya.
Bencana tanah longsor terjadi di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, pada pekan lalu. Longsoran tanah menimbun 105 rumah, masjid, sungai, sawah seluas 8 hektare, dan kebun palawija seluas 5 hektare.
Bencana ini menyebabkan banyak orang hilang. Saat ini baru 39 orang yang teridentifikasi. Sementara jumlah pengungsi mencapai 1.742 jiwa yang menyebar di 17 titik posko pengungsian.