Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional Tiongkok (National Development and Reform Commission/NDRC) telah menyelidiki kasus ini selama 13 bulan.
Dirjen Biro Anti-monopoli NDRC, Xu Kunlin, pada Jumat (26/12) mengatakan pihaknya telah menyelesaikan diskusi putaran ketujuh dengan Presiden Qualcomm, Derek Aberle dan tim pada awal Desember 2014.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain Qualcomm, setidaknya ada 30 perusahaan asing yang sedang dalam pengawasan regulator karena dugaan melanggar undang-undang anti-monopoli di Tiongkok.
Sejumlah kritikus mengatakan undang-undang yang disahkan tahun 2008 itu dipakai untuk menargetkan perusahaan asing.
Dalam sebuah konferensi internet dunia, Perdana Menteri Tiongkok, Li Keqiang, mengatakan kepada CEO Qualcomm, Paul Jacobs, bahwa peluang bisnis di Tiongkok masih jauh lebih besar daripada tantangan yang dihadapi Qualcomm saat ini.
Jacobs mengatakan perusahaan sedang mengalami "diskusi yang sulit" dengan regulator untuk menemukan "win-win solution".
Menurut laporan Bloomberg, Qualcomm mendapatkan uang US$ 30,5 miliar atau sekitar Rp 379 triliun dari biaya lisensi paten selama lima tahun terakhir.