DALER diciptakan oleh tim dari Laboratory of Intelligent Systems (LIS), Ecole Polytechnique Fédérale de Lausanne (EPFL), dan National Centre of Competence in Research (NCCR) Robotics.
DALER memang belum bisa mendarat seperti kelelawar atau bergantung di dahan seperti binatang malam itu. Tapi ia memiliki rangka sayap yang bisa dilipat atau dikerutkan, seperti kelelawar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
DALER memiliki kemampuan adaptasi pada lingkungan tertentu. Misalnya, saat hanya ada celah yang sempit, DALER bisa mengerutkan sayapnya supaya tubuhnya bisa masuk lewat celah itu.
Pada situasi bencana misalnya, DALER bisa diterbangkan ke area yang sulit dijangkau oleh regu penolong. Robot ini bisa berjalan untuk melokalisir korban sehingga membantu regu penolong dalam menemukan korban.
Daler mengatakan, desain robot DALER itu terinspirasi kelelawar dari spesies Desmodus rotundus, salah satu jenis kelelawar vampir. “Morfologi sayapnya yang adaptif memungkinkan robot memodifikasi bentuk tubuhnya untuk efisiensi saat melakukan pergerakan terestrial,” kata dia.
Sementara itu, Evan Ackermann dari IEEE Spectrum, mengatakan robot pesawat tanpa awak itu terlihat menarik dari segala aspek. “Yang menarik dari mobilitas di darat adalah robot bersayap itu bisa mendarat, melakukan orientasi ulang dirinya, dan terbang lagi,“ katanya.
Daler mengatakan, pengembangan lebih lanjut pada robot DALER itu adalah memungkinkannya melayang dan take-off secara otomatis dari permukaan tanah, supaya robot itu bisa kembali ke pangkalan setelah menjalankan misinya.
Robot DALER ini mampu terbang dengan kecepatan 20 meter per detik dan merangkak secepat 6 centimeter per detik. Meski begitu, diharapkan DALER dapat berperan dalam penanganan bencana alam atau bahkan dalam misi antariksa.
Ini bukan kali pertama ilmuwan terinspirasi dari satwa dalam mengembangkan sebuah teknologi robotika. Sebelumnya sudah ada cheetah dan ular. Bagaimana ceritanya? Ikut laporan khusus CNN Indonesia hari ini.
[Gambas:Youtube]