Seperti dilansir News.com.au pada Jumat (30/1), cip Identifikasi Frekuensi Radio (RFID) ini dapat membuka akses pintu gedung, tempat fotokopi, lift, hingga membeli makanan di kafe. Temuan ini dianggap dapat menjadi akhir dari kartu gesek.
Ide ini pertama kali digagas oleh kelompok eksperimen bernama BioNyfiken yang mengimplan delapan hingga lima belas orang sekaligus dengan cip RFID. Tujuan mereka adalah untuk membuat hidup orang lebih mudah dan merasa menjadi bagian komunitas BioNyfiken.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bukankah akan lebih mudah hanya dengan menyentuhkan tangan? Itu sangat intuitif," ucap Sjoblad.
"Saya tidak merasa ini adalah masa depan, ini adalah masa kini. Bagi saya, aneh kita tidak memiliki ini sejak dulu," kata Lantz seperti dikutip dari The Local asal Swedia.
Sjoblad mengaku tidak heran Swedia menjadi tempat pertama diterapkannya teknologi ini.
"Swedia memiliki rekam jejak sebagai pengadaptasi teknologi baru yang sangat cepat dan suasana sekarang sangat kondusif untuk eksperimen semacam ini," tutur Sjoblad.
Sebelumnya, perusahaan Amerika Serikat, MC 10, juga memproduksi tato digital yang bisa menunjukkan data kandungan air dalam tubuh, paparan sinar UV, hingga memantau suhu badan bayi.
Sementara itu, terobosan teknologi ini mendapat tanggapan miring dari beberapa pengguna jejaring sosial. "Cip mikro implan. Apakah Anda akan memilikinya? Di Swedia ini menjadi tren. Tidak!" kicau pemilik akun Twitter @MyTenacious pada 9 Desember lalu.
Tanggapan keras juga meluncur dari pengguna akun Twitter @lisa_alba yang pada Jumat (30/1) berkicau, "Negara ini telah kehilangan keinginan untuk hidup bebas."