Tiga Negara yang Paling Menyensor Facebook

Ike Agestu/CNN, CNN Indonesia | Minggu, 08/02/2015 16:32 WIB
India, Turki dan Pakistan adalah tiga negara yang mewajibkan Facebook memblokir 'konten tertentu' yang dianggap berbahaya. Facebook, yang membentuk imej memperjuangkan kebebasan berpendapat, 'harus tunduk' pada aturan pemerintah di beberapa negara agar bisa bertahan dan tak ditutup. (Flickr/Eston)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di beberapa negara, Facebook menghadapi dilema: lakukan sensor atau ditutup.

Maka Facebook memutuskan untuk melakukan sensor.

Ini bukan tentang foto atau status yang melanggar aturan Facebook, seperti hal-hal yang terkait pornografi. Ini lebih ke Facebook, yang menyensor atas nama pemerintah, atas perintah pemerintah.


Dikutip dari CNN, sensor terbanyak dilakukan di tiga negara: India, Pakistan dan Turki.

Di negara-negara itu, ribuan laman dan foto ditarik setiap tahunnya atas tuduhan “fitnah”, mengkritisi pemerintah atau menyinggung agama.

Dalam enam bulan pertama tahun lalu, Facebook memblokir 5.000 “konten terkait” di India. Hampir 2.000 di Turki, yang diikuti oleh Pakistan dengan angka yang tak jauh berbeda.

Para pengguna Facebook dari luar negeri masih bisa melihat foto dan komentar tentang hal yang terlarang itu, namun konten itu tidak bisa dilihat di negara mereka sendiri.

Informasi ini dikeluarkan oleh Facebook, yang mencatatnya dalam “Laporan Permintaan Pemerintah”.

Peristiwa yang baru-baru ini terjadi di Turki adalah contoh bagaimana sensor ini bekerja. Menyusul perintah pengadilan di Turki minggu lalu, Facebook memblokir halaman yang mem-posting gambar Nabi Muhammad. Turki saat ini memiliki 38 juta pengguna Facebook.

Namun tak sensor itu tak hanya terjadi di negara-negara berkembang. Perancis, Jerman dan Inggris adalah tiga dari beberapa negara maju yang juga meminta Facebook untuk melakukan pemblokiran, meski jumlahnya masih puluhan.

Sementara itu, Facebook secara umum membentuk imej sebagai perusahaan yang memperjuangkan penggunanya untuk dapat berbicara bebas. Pada 2012, CEO dan pendiri Facebook Mark Zuckerberg mengatakan bahwa Facebook adalah media sosial yang akan membantu publik menekan para politisi dan akan berpihak pada kebebasan berpendapat.

Menanggapi itu, Zuckerberg berdalih, “Jika memang harus menyensor sedikit, namun Facebook masih bisa meningkatkan komunikasi secara keseluruhan, maka itu adalah kemenangan kedua pihak.”

Beberapa kritikus menganggap Zuckerberg bermain aman dan hanya mementingkan keuntungan karena mengikuti permintaan sensor dari pemerintah.

Namun yang lain, mengatakan bahwa itu adalah satu-satunya cara agar Facebook masih diizinkan beroperasi. Facebook mengatakan kepada CNN, bahwa Turki telah memblokir Twitter dan YouTube awal tahun ini. Ancaman itu, menurut mereka, nyata adanya. (stu)


ARTIKEL TERKAIT