Menurut peneliti Ripro, Agus Mulyono, Presiden Jokowi memiliki dukungan positif di awal masa tugasnya. Dukungan tersebut bertahan bahkan meningkat hingga Jokowi mengumumkan kebijakan pengalihan subsidi bahan bakar minyak (BBM).
"Saat diterapkan kebijakan pengalihan subsidi BBM, pamor positif malah terus meningkat," kata Agus dalam diskusi Membaca Indonesia di Kampus PascaSarjana Universitas Paramadina, Senin (23/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sayangnya dari data yang dihasilkan tanggapan positif ini tidak berlangsung lama. Pamor Jokowi kembali menurun saat mengeluarkan kebijakan pembangunan mobil nasional.
Dari hasil penelitian ini, terlihat bahwa Presiden Jokowi akan terus dinilai dan didukung para netizen berdasarkan citra yang membuatnya terpilih sebagai presiden yaitu membangun pemerintah yang bersih, dan tidak berorientasi kepentingan politik partai pengusungnya. Ketika Presiden melakukan hal sebaliknya, maka secara sensitif para netizen melontarkan tanggapan negatif dengan signifikan melalui akun media sosial yang mereka miliki.
Penelitian ini dilakukan dengan merangkum seluruh data yang ada pada media sosial, terutama Twitter. Dengan menggunakan dua variabel utama yaitu Retweet dan Mention, akan terlihat jelas topik apa yang dibicarakan di kalangan masyarakat maya.
Penelitian ini, menurut Agus dilakukan dengan waktu yang cukup singkat. Meskipun demikian, hasil penelitian ini dianggap valid dan dapat digunakan untuk memantau reaksi publik terhadap Komunikasi Politik dari pemerintahan Presiden Jokowi.
(eno)